Anak Buah Sri Mulyani Masih Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Bisa Diraih hingga 4,5 Persen
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara. (Foto: Tangkap layar Youtube Kementerian Keuangan)

Bagikan:

JAKARTA - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menegaskan pemerintah masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada sepanjang 2021 dapat berada di kisaran level 3,7 persen hingga 4,5 persen. Hal tersebut dia kemukakan saat menjadi pembicara kunci dalam webinar Indonesian Ministry of Finance-Asian Development Bank 2021 International Climate Change Conference (ICCC).

Menurut Wamenkeu, target tersebut cukup menantang di tengah peningkatan kasus harian COVID-19 yang masih dalam tren tinggi untuk beberapa pekan terakhir. Meski demikian, pemerintah disebutnya telah menyiapkan sejumlah strategi agar proyeksi itu bisa diraih.

“Kami meningkatkan alokasi belanja untuk mendukung sektor kesehatan, seperti meningkatkan kapasitas rumah sakit, pemberian insentif terhadap tenaga kesehatan (nakes), tetapi di saat yang bersamaan pemerintah juga terus mengakselerasi percepatan vaksinasi di masyarakat,” ujarnya, Kamis, 22 Juli.

Wamenkeu menambahkan, langkah lain yang kini dilakukan adalah melalui refocusing dan realokasi belanja yang dianggap tidak priorotas ke sektor lebih kritikal.

“Kami berharap masih bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan sembari memperhatikan perkembangan terkini yang terjadi, khususnya pada kuartal ketiga ini,” tutur dia.

Lebih lanjut, anak buah Sri Mulyani itu juga mengungkapkan bahwa pemerintah terus berupaya melakukan reformasi perpajakan yang merupakan bagian dari semangat omnibus law.

“Penting bagi Indonesia untuk tetap relevan dengan sistem perpajakan yang terhubung secara global. Ke depan, salah satu agenda yang dipersiapkan pemerintah adalah memberlakukan aturan pungutan tertentu terhadap emisi karbon,” jelasnya.

Untuk diketahui, regulasi pajak karbon yang kini tengah digodok oleh pemerintah dan parlemen menjadi isu strategis. Pasalnya, hal tersebut sangat terkait dengan skema pendapatan negara dan juga pengembangan ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

“Di masa mendatang kami melihat bahwa  pengembangan industri yang selaras dengan aspek lingkungan sangat mungkin untuk membuka peluang pembiayaan hijau dan ini sesuai dengan semangat masyarakat global,” tutup dia.