Bagikan:

JAKARTA - Jerome Powell belum benar-benar pergi dari The Fed. Masa jabatannya sebagai ketua bank sentral Amerika Serikat berakhir pada 15 Mei, tetapi ia memilih tetap duduk sebagai anggota dewan gubernur untuk “beberapa waktu”.

Melansir laporan Kyodo News, Kamis, 30 April, keputusan Powell itu muncul saat The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen. Bank sentral AS menahan bunga karena perang Iran membuat harga energi naik dan prospek inflasi makin sulit dibaca.

Powell mengatakan keputusannya bertahan juga dipicu kekhawatiran atas “serangan hukum” dari pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap The Fed. Ia menyebut tekanan itu belum pernah terjadi dalam sejarah 113 tahun lembaga tersebut.

“Saya khawatir serangan-serangan ini merusak institusi dan membahayakan kemampuan menjalankan kebijakan moneter tanpa mempertimbangkan faktor politik,” kata Powell dikutip Kyodo News.

Salah satu hal yang disorot Powell adalah penyelidikan Departemen Kehakiman AS terhadap dirinya terkait biaya renovasi kantor pusat The Fed. Powell menyatakan baru akan pergi setelah penyelidikan itu benar-benar selesai secara tuntas dan transparan.

“Saya akan mundur ketika saya menilai sudah tepat,” ujarnya.

Trump selama ini terus mendesak The Fed menurunkan biaya pinjaman. Pada Rabu, ia kembali mengatakan sekarang “waktu yang tepat” untuk memangkas suku bunga karena ekonomi AS dinilainya kuat.

Namun The Fed belum mau mengambil risiko. Dalam pernyataannya, Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC menyebut inflasi masih tinggi, antara lain karena kenaikan harga energi global. Gejolak Timur Tengah juga membuat prospek ekonomi makin tidak pasti.

Data terbaru menunjukkan harga konsumen AS pada Maret naik 3,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka itu naik hampir 1 poin persentase dari Februari dan menjadi yang tertinggi sejak Mei 2024.

Keputusan The Fed kali ini tidak bulat. Stephen Miran, sekutu Trump yang masuk dewan tahun lalu, kembali meminta pemangkasan suku bunga seperempat poin.

Tiga anggota lain dari FOMC mendukung bunga tetap. Namun, mereka menolak kalimat dalam pernyataan resmi yang menunjukkan The Fed mulai condong ke pelonggaran kebijakan.

Empat perbedaan pendapat dalam satu rapat FOMC terakhir kali terjadi pada Oktober 1992. Ini menunjukkan bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut sedang tidak sepenuhnya kompak menjelang pergantian pimpinan.

Keputusan Powell bertahan membuat Trump untuk sementara belum bisa menunjuk gubernur baru The Fed. Tiga orang pilihan Trump di dewan pun tetap menjadi minoritas.

Sementara itu, Kevin Warsh, mantan gubernur The Fed, semakin dekat menggantikan Powell. Komite Perbankan Senat telah menyetujui pencalonannya lewat pemungutan suara 13-11, dengan seluruh anggota Republik mendukung Warsh.

Senator Thom Tillis, anggota Republik di komite itu, sebelumnya sempat memboikot pemungutan suara. Ia menolak memberi suara selama Departemen Kehakiman masih menjalankan penyelidikan pidana terhadap Powell.

Pekan lalu, Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan tersebut. Tillis dan banyak pengkritik menilai penyelidikan itu sebagai ancaman terhadap independensi The Fed.

Powell berjanji akan menjaga “profil rendah” sebagai gubernur dan tidak mengganggu ketua baru The Fed. Ia mengatakan akan berusaha didengar, tetap bekerja sama, dan mendukung ketua baru jika memungkinkan.

The Fed kini menghadapi tekanan inflasi, ketidakpastian akibat perang Iran, dan tarik-menarik politik menjelang pergantian kepemimpinan.