JAKARTA - Panama pekan ini menegaskan kembali "netralitas" Terusan Panama dan "kebutuhan untuk menjaga" jalur transit maritim di tengah blokade Selat Hormuz selama perang Timur Tengah.
Penutupan yang sudah berlangsung selama sebulan ini telah menyebabkan Iran secara efektif menutup selat tersebut, jalur air penting bagi seperlima ekspor minyak dan gas alam dunia dari negara-negara Teluk, yang memicu peningkatan lalu lintas melalui Terusan Panama.
Menteri Luar Negeri Panama, Javier Martinez-Acha, menegaskan kembali netralitas terusan tersebut selama percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar.
Kedua menteri luar negeri membahas situasi internasional yang "ditandai dengan ketegangan di Timur Tengah," menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Panama, seperti melansir Al Arabiya dari AFP (30/4).
Menlu Martinez-Acha menekankan "pentingnya netralitas Terusan Panama sebagai pilar perdagangan global" dan menyoroti "kebutuhan untuk menjaga stabilitas di jalur transit maritim dan energi utama."
Diketahui, lalu lintas melalui Terusan Panama telah meningkat dari sekitar 34 kapal per hari pada Bulan Januari menjadi hingga 50 kapal yang tiba setiap hari saat ini, menurut pengelola terusan tersebut.
BACA JUGA:
Lima persen perdagangan maritim global melewati Terusan Panama, yang pengguna utamanya adalah Amerika Serikat dan Tiongkok. Rute ini terutama menghubungkan pantai timur Amerika Serikat dengan raksasa Asia, Korea Selatan dan Jepang.