Bagikan:

JAKARTA - Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan pada Hari Rabu, hubungannya dengan Presiden AS Donald Trump tetap baik meskipun terjadi perselisihan mengenai perang Iran, menegaskan kembali kekhawatirannya tentang dampak ekonomi dari konflik tersebut.

Perselisihan tersebut mencerminkan perbedaan pandangan antara Pemerintahan Trump dan sekutu NATO Eropa mengenai Iran dan isu-isu lainnya, termasuk konflik Ukraina.

"Dari perspektif saya, hubungan pribadi saya dengan Presiden AS tetap baik. Saya hanya ragu sejak awal tentang apa yang telah dimulai dengan perang di Iran. Itulah mengapa saya telah menjelaskan hal itu," kata Kanselir Merz seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (29/4).

"Di Jerman dan Eropa, kami menderita akibatnya, seperti penutupan Selat Hormuz. Ini berdampak langsung pada pasokan energi kami dan berdampak besar pada kinerja ekonomi kami," urai Kanselir Merz, menambahkan Washington dan Berlin sedang berbicara satu sama lain.

Sebelumnya, Presiden Trump pada Hari Selasa mengkritik Kanselir Merz atas pendiriannya, dengan mengatakan dalam unggahan media sosial, Kanselir Jerman itu menganggap "tidak apa-apa" bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir dan bahwa Ia tidak tahu apa yang dibicarakannya.

Kanselir Merz sebelumnya telah mengatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Komentar Presiden Trump menyusul teguran kepada Washington dari Kanselir Merz pada Hari Senin, ketika Ia mengatakan kepemimpinan Iran "mempermalukan" Amerika Serikat dengan meminta para pejabat AS untuk melakukan perjalanan ke Pakistan untuk pembicaraan perdamaian dan kemudian meninggalkannya tanpa hasil.

Kanselir Merz juga mengatakan Ia tidak melihat strategi keluar apa yang dikejar Negeri Paman Sam.

Diketahui, Presiden Trump telah mengkritik keras sekutu NATO karena tidak mengirimkan angkatan laut mereka untuk membantu membuka Selat Hormuz, yang tetap tertutup sejak awal Maret, menyebabkan kekacauan pasar dan gangguan pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun ada gencatan senjata dalam perang AS-Israel dengan Iran, konflik tersebut buntu karena kedua belah pihak berupaya mengakhiri pertempuran secara formal.