Bagikan:

JAKARTA - The Fed diperkirakan belum akan menurunkan suku bunga dalam rapat pekan ini. Bank sentral AS itu masih menunggu arah pasar tenaga kerja, inflasi inti, dan dampak harga energi akibat perang di Timur Tengah.

Melansir laporan Anadolu Agency, Selasa, 28 April, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen. Namun, sejumlah ekonom menilai pemangkasan tetap terbuka tahun ini, kemungkinan mulai September.

Philip Marey, ahli strategi senior AS di Rabobank, memperkirakan The Fed memangkas bunga dua kali tahun ini, yakni pada September dan Desember.

Menurut Marey, perhatian pasar akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell. Terutama soal data ekonomi terbaru dan seberapa besar perang Timur Tengah memengaruhi arah kebijakan bank sentral.

Harga energi menjadi ganjalan utama. Jika terus naik, inflasi bisa sulit turun. Namun jika pasar tenaga kerja melemah, tekanan untuk memangkas bunga akan makin besar.

Marey juga menyebut anggota Dewan Gubernur The Fed Stephen Miran kemungkinan kembali menolak keputusan mempertahankan bunga.

Di sisi lain, posisi Powell juga menjadi sorotan. Belum jelas apakah rapat pekan ini menjadi rapat terakhirnya sebagai ketua. Jika konfirmasi Kevin Warsh, calon penerus yang ditunjuk Trump, tertunda di Senat, Powell masih berpeluang menjabat sementara pada Juni.

Oliver Allen, ekonom senior AS di Pantheon Macroeconomics, menilai rapat pekan ini kemungkinan berlangsung tenang. The Fed, kata Allen, masih menunggu tanda lebih jelas dari pasar tenaga kerja dan inflasi inti sebelum bergerak.

Allen memperkirakan The Fed dapat memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam tiga rapat berturut-turut mulai September. Namun, jadwal tersebut masih bisa bergeser, tergantung perkembangan pasar tenaga kerja dan inflasi inti.