Bagikan:

JAKARTA - Transformasi ekonomi digital kembali membuka peluang bagi pelaku usaha mikro. Nuryadi, mantan mitra pengemudi Grab, kini berhasil mengembangkan usaha kuliner Baso Aci Mastyo dengan penjualan puluhan porsi per hari, mayoritas melalui platform digital.

Pria yang akrab disapa Mas Nur itu memulai perjalanan sebagai mitra pengemudi pada 2019. Dari aktivitas mengantar pesanan, ia melihat tren pertumbuhan layanan pesan-antar makanan yang semakin diminati masyarakat.

“Dari situ saya melihat peluang usaha kuliner berbasis online cukup besar,” ujar Mas Nur.

Ia sempat merintis usaha salad buah saat tren makanan sehat meningkat. Namun, perubahan selera pasar saat pandemi COVID-19 membuatnya beralih ke menu yang lebih populer, seperti seblak dan baso aci.

Pada 2020, ia mendirikan Baso Aci Mastyo. Dengan mengandalkan platform digital, usaha rumahan tersebut kini mampu menjual sekitar 70–80 porsi per hari, dengan sekitar 90 persentransaksi berasal dari pesanan online.

Mas Nur juga memanfaatkan fitur promosi digital seperti iklan dan subsidi ongkos kirim untuk memperluas jangkauan pasar.

Strategi ini dinilai efektif meningkatkan visibilitas di tengah persaingan ketat bisnis kuliner online.

“Kalau tanpa digitalisasi, pasar kita sangat terbatas. Sekarang pelanggan bisa dari lokasi yang lebih jauh,” jelasnya.

Meski sempat membuka dua cabang, penyesuaian pasar membuatnya kini fokus pada satu outlet utama dengan strategi berbasis digital.

Kisah ini menunjukkan bagaimana digitalisasi mampu mendorong pelaku usaha kecil untuk naik kelas dan memperluas pasar.