JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini, Senin, 6 April, setelah Kamis lalu ditutup melemah 2,19 persen atau 157,66 poin ke level 7.026,78.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya mengatakan, pelemahan IHSG dipicu oleh sentimen global yang kembali memburuk, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
“Tekanan jual, khususnya dari investor asing, masih cukup dominan. Sentimen utamanya masih datang dari faktor global, terutama soal geopolitik di Timur Tengah,” jelasnya.
Sempat muncul optimisme setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut konflik berpotensi segera berakhir. Namun, pernyataan terbaru justru bernada lebih agresif, sehingga memicu kembali mode risk-off di pasar.
Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah, yang turut menekan sentimen pasar global.
Dari domestik, kebijakan pemerintah untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan mendorong efisiensi dinilai cukup tepat dalam meredam dampak kenaikan harga energi. Namun, pasar mulai mencermati potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, data ekonomi yang dirilis juga menunjukkan kondisi yang cenderung beragam. Surplus neraca perdagangan masih tercatat, namun mengalami penurunan secara tahunan. Sementara itu, inflasi yang mulai melandai di satu sisi menjadi sentimen positif, tetapi juga mencerminkan moderasi daya beli masyarakat.
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam tekanan dengan kecenderungan konsolidasi.
“Support kuat di level 7.000 dan resistance di kisaran 7.100 hingga 7.200. Selama sentimen global belum kondusif, IHSG kemungkinan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah,” jelasnya.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diproyeksikan masih bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, seiring dominasi sentimen eksternal.
BACA JUGA:
Dalam kondisi tersebut, investor disarankan untuk cenderung defensif dan selektif. Pendekatan trading jangka pendek dinilai lebih sesuai dibandingkan akumulasi agresif.
Dari sisi sektoral, peluang masih terbuka pada sektor energi dan komoditas yang diuntungkan dari kenaikan harga global, seperti batubara, minyak, dan crude palm oil (CPO). Selain itu, emas juga tetap menarik sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Adapun beberapa saham yang dapat dicermati menurut BRI Danareksa Sekuritas, antara lain ITMG, PTBA, ELSA, DSNG, dan TAPG.