JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan, realisasi investasi hingga Agustus 2025 telah menembus 17,20 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 8,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024, yang tercatat sebesar 15,85 miliar dolar AS.
Pertumbuhan investasi didominasi oleh sub-sektor minyak dan gas bumi sebesar 10,22 miliar dolar AS. Kemudian disusul sub-sektor mineral dan batu bara sebesar 3,80 miliar dolar AS.
"Ini menjadi bukti nyata kepercayaan investor terhadap keseriusan pemerintah dalam mengubah haluan ekonomi," ujar Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, Rabu, 22 Oktober.
Sementara itu realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM hingga semester I 2025 telah mencapai Rp183,3 triliun atau 71,99 persen dari target.
Ia merinci, pendapatan ini didominasi oleh kontribusi subsektor mineral dan batu bara sebesar Rp100,2 triliun dan subsektor minyak dan gas bumi Rp73,3 triliun.
Bahlil menegaskan capaian keberhasilan ini berkat arahan tegas dan tepat dari Presiden RI Prabowo Subianto demi menghindari sebagai negara kutukan sumber daya alam.
“Presiden Prabowo telah memandu dengan tepat dan tegas arah baru (kebijakan sektor ESDM) terhadap amanat konstitusi tersebut,” jelas Bahlil.
Menurutnya, angka-angka tersebut memberi dua sinyal penting yakni keberlanjutan proyek hilirisasi dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan yang dijalankan pemerintah.
"Dengan semakin banyak produk bernilai tambah yang diproduksi di dalam negeri, potensi untuk memperluas basis pajak dan mendongkrak penerimaan daerah semakin terbuka," terang Bahlil.
SEE ALSO:
Ketua Umum Partai Golkar ini juga mengklaim jika dalam setahun terakhir, kebijakan pro-rakyat di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai memperlihatkan hasil nyata. Tidak sekadar membangun fasilitas fisik, pemerintah menaruh perhatian pada bagaimana proyek-proyek itu mampu mengubah kehidupan masyarakat lewat peningkatan keterampilan dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Langkah yang ditempuh bersifat terukur, lanjut Bahlil, mulai dari program pelatihan dan sertifikasi untuk tenaga kerja, pembukaan ruang bagi Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM), koperasi, dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) hingga penempatan proyek di luar pusat-pusat industri agar manfaat pembangunan lebih merata.
"Tujuannya menyebarkan manfaat pembangunan agar terasa sampai ke desa dan kota kecil, bukan hanya di pusat ekonomi," tandas Bahlil.