JAKARTA - HSBC mencatat penurunan laba setelah tertekan dari dua arah sekaligus yakni dampak perang AS-Israel terhadap Iran dan dugaan penipuan di sektor kredit swasta.
Menurut laporan The Guardian yang dikutip Selasa, 5 Mei, laba bank yang berkantor pusat di London itu turun 4 persen pada tiga bulan pertama tahun ini. Laba HSBC berkurang 100 juta dolar AS menjadi 9,4 miliar dolar AS dibanding periode yang sama pada 2025. Pendapatan justru naik 6 persen menjadi 18,6 miliar dolar AS.
Tekanan utama datang dari potensi kerugian kredit yang membengkak menjadi 1,3 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, 300 juta dolar AS dikaitkan langsung dengan dampak konflik di Timur Tengah.
HSBC juga mencatat beban 400 juta dolar AS terkait dugaan penipuan di Inggris. Beban itu muncul dari eksposur sekuritisasi sekunder di divisi perbankan investasi.
BACA JUGA:
Direktur Keuangan HSBC Pam Kaur mengatakan perkara itu terkait pinjaman kepada sebuah grup ekuitas swasta yang tidak disebutkan namanya. Grup tersebut kemudian terpapar pinjaman di sektor kredit swasta.
Kredit swasta adalah pembiayaan dari lembaga nonbank kepada perusahaan atau pihak tertentu. Sektor ini tumbuh cepat, tetapi kerap disorot karena tidak seterbuka perbankan biasa.
Menurut Financial Times, kasus tersebut dilaporkan terkait Mortgage Financial Solutions atau MFS, perusahaan pemberi pinjaman rumah yang kolaps pada Februari di tengah tuduhan penipuan. HSBC menolak mengonfirmasi nama perusahaan yang dimaksud.
Kasus MFS sebelumnya juga memukul Barclays. Bank pesaing HSBC di Inggris itu mencatat beban 228 juta pound sterling. Regulator keuangan Inggris telah membuka penyelidikan atas skandal tersebut.
Kaur menyebut kasus HSBC bersifat “khusus”. Ia menegaskan eksposur bank terhadap sektor kredit swasta mencapai 6 miliar dolar AS, angka yang disebutnya “sangat kecil” dibanding neraca HSBC sebesar 1 triliun dolar AS.
“Kami selalu sangat memperhatikan risiko kredit swasta,” kata Kaur dikutip The Guardian.
Namun, pasar tetap bereaksi keras. Saham HSBC turun lebih dari 5 persen pada Selasa pagi dan menjadi saham dengan penurunan terbesar di indeks FTSE 100.