Laba Perusahaan yang Dimiliki Konglomerat TP Rachmat dan Boy Thohir Ini Naik 8,86 Persen di Kuartal I 2021
Ilustrasi. (Foto: Dok. Surya Esa Perkasa)

Bagikan:

JAKARTA - PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,86 persen di kuartal I 2021. Raihan tersebut, seiring dengan kontribusi signifikan dari segmen bisnis amonia.

Dikutip dari laporan keuangan Surya Esa Perkasa, Jumat 23 April. perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar 68,5 juta dolar AS pada kuartal I 2021. Jumlah tersebut naik 8,86 persen dibandingkan pada kuartal I 2020 sebesar 62,9 juta dolar AS.

Pendapatan Amonia perusahaan yang sahamnya dimiliki konglomerat TP Rachmat dan Garibaldi (Boy) Thohir ini tercatat naik 11,8 persen di kuartal I/2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini turut berpengaruh terhadap kenaikan pendapatan ESSA yang sebagian besar kontribusi penjualannya berasal dari segmen Amonia sebesar 86 persen.

Sektor selanjutnya yang menyumbangkan penerimaan terbesar untuk ESSA adalah LPG sebesar 14 persen. Dari sisi operasional, ESSA berhasil mengurangi beban penjualan sebesar 18 persen dan beban administrasi dan umum sebanyak 17 persen.

Hal tersebut memungkinkan ESSA menghasilkan marjin operasi yang lebih baik sehingga mendorong kenaikan laba bersih menjadi 9,5 juta dolar AS pada berbanding sebesar 0,3 juta dolar AS pada kuartal I 2020.

Presiden Direktur ESSA Vinod Laroya menyatakan, peningkatan pendapatan serta laba bersih ESSA terjadi seiring dengan pemulihan harga Amonia secara tajam sejak Januari 2021. Kenaikan harga Amonia didorong oleh hambatan pasokan serta dimulainya fase awal pemulihan permintaan.

"Ke depan, ESSA akan terus meningkatkan kinerjanya seiring dengan pemulihan harga dan permintaan di pasar global," katanya dalam keterangan resmi Surya Esa Perkasa yang diterima VOI.

Amonia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk, plastik, dan bahan kimia di seluruh dunia. Namun, perkiraan permintaan Amonia saat ini belum mempertimbangkan peran Amonia sebagai alternatif bahan bakar masa depan karena kandungan hidrogennya yang tinggi, emisi yang rendah, serta pengiriman logistik yang dapat diandalkan.

Vinod mengatakan, seiring dengan adanya peningkatan permintaan Amonia global, ESSA melihat peluang pengembangan permintaan amonia melalui Amonia Biru memiliki prospek yang baik.

Untuk itu, pada Maret 2021 lalu, perseroan bekerjasama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang Pengumpulan, Pemanfaatan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture, Utilization & Storage /CCUS) untuk produksi Amonia Biru di Indonesia di Pabrik Amonia di Banggai, Sulawesi Tengah.

Selanjutnya, pada Maret 2021 melalui anak perusahaannya, PT Panca Amara Utama (PAU), ESSA telah berhasil membiayai kembali pinjaman jangka panjang sebesar 495 juta dolar AS. Hal ini memungkinkan PAU untuk memiliki struktur permodalan yang lebih sederhana dan lebih ramping.

Sebagai informasi, PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) bergerak dalam bidang manufaktur, perdagangan, ekspor, impor, distribusi LPG (Liquefied Petroleum Gas), Kondensat dan Propana, dan bisnis terkait lainnya. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 2007.