Bagikan:

JAKARTA – Proyeksi ekonomi Bank Dunia (World Bank) terbaru menyebutkan bahwa tahun ini pertumbuhan melambat tajam akibat inflasi yang meningkat, suku bunga lebih tinggi, berkurangnya investasi serta gangguan perang Ukraina akan membuat ekonomi rapuh dan merugikan.

Ada beberapa risiko berkelanjutan yang harus diwaspadai seperti inflasi yang terus bergerak lebih tinggi dengan kembangkitan kembali pandemi COVID-19 dapat mendorong dalam resesi global yang tidak terhindarkan.

Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan krisis yang dihadapi semakin intensif karena prospek pertumbuhan global memburuk.

“Pertumbuhan ekonomi dunia menurun menjadi 1,7 persen pada 2023 dari perkiraan sebelumnya sebesar 3 persen di enam bulan lalu. Ini perlambatan yang tajam dan diperkirakan berkepanjangan,” ujarnya dikutip Kamis, 12 Januari.

Menurut David, ada ancaman beban utang yang meningkat bagi negara berkembang dan sedang berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Kata dia, hal ini juga merupakan ekses dari ‘kaburnya’ modal ke negara maju akibat peningkatan suku bunga.

“Ini buruk untuk pertumbuhan dan investasi serta tuntutan dari agenda perubahan iklim,” tuturnya.

Terkhusus bagi negara berkembang, seperti Indonesia, pertumbuhan akan melambat dipengaruhi oleh permintaan eksternal (ekspor) yang melemah. Ada juga tantangan depresiasi mata uang, kondisi pembiayaan yang lebih ketat, dan tantangan domestik.

Sebagai informasi, dalam risalahnya Bank Dunia melampirkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di negara maju (Amerika, Eropa, Jepang) tahun ini menjadi 0,5 persen dari 2,5 persen di 2022. Indonesia sendiri diyakini hanya akan tumbuh sebesar 4,8 persen dari sebelumnya 5,2 persen di 2022.