Bagikan:

JAKARTA –Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menghadiri Gelar Pangan Murah (GPM) dan Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) bertemakan "Bersama Wujudkan Pangan Kuat Indonesia Berdaulat" di Bandung pada hari ini. Arief mengatakan Provinsi Jawa Barat (Jabar) memiliki potensi pangan yang besar dan beragam, bahkan dikenal sebagai lumbung beras nasional.

"Seperti diketahui, Jawa Barat merupakan salah satu lumbung pangan penting bagi Indonesia. Potensi tersebut perlu didukung sarana-prasarana dengan teknologi yang memadai agar komoditas yang diproduksi dapat memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi dan gizi masyarakat, juga bagi stabilitas dan ketahanan pangan," ujar Arief di Bandung, Selasa 8 November.

Jumlah produksi beras Jabar pada 2021 diketahui mencapai 5,2 juta ton, yang menjadikan Jabar sebagai salah satu provinsi sentra beras terbesar.

Selain beras, kata Arief, Jawa Barat juga merupakan penghasil bawang merah, cabai besar, palawija, serta aneka buah-buahan.

"Potensi pangan yang tinggi ini harus didukung fasilitas logistik pangan dengan teknologi yang baik agar memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan pangan dan gizi masyarakat, peningakatan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan setempat," kata dia.

Kemudian, Arief mengatakan NFA siap mendukung penguatan potensi pangan di Jabar melalui alokasi sarana dan prasarana logistik pangan yang bermanfaat untuk memperpanjang masa simpan produk, seperti melalui penyediaan reefer countainer, air blast freezer, cold storage, dan heat pump dryer di sentra-sentra produksi pangan.

"Sarana-prasarana logistik pangan ini secara umum bertujuan mengamankan rantai dingin atau cold chain pangan agar stok terjaga. Kami sudah alokasikan enam fasilitas untuk Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Ciamis. Salah satunya, kami serahterimakan secara simbolis pada momentum peringatan Hari Pangan Sedunia di Jawa Barat ini," paparnya.

Pengalokasian sarana dan prasarana logistik pangan tersebut, tambah Arief, merupakan strategi NFA dalam manajemen stok dan stabilisasi harga pangan strategis. Selain itu, langkah ini juga merupakan bagian dari extra effort pengendalian inflasi pangan.

Lebih lanjut, Arief juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan untuk pemerintah Provinsi Jabar yang telah berhasil menjaga stabilitas stok dan harga pangan di wilayahnya.

Ia juga berterima kasih atas kontribusi Jabar dalam memenuhi kebutuhan pangan di daerah defisit, sehingga turut berperan menurunkan inflasi pangan nasional.

"Salah satu aksi konkret yang telah dilakukan adalah kolaborasi Pemprov Jabar bersama NFA, Kemenhub, dan Kemendag melakukan pengiriman 200 ton beras dari Jabar ke Aceh melalui Tol Laut dari pelabuhan Patimban. Pada hari ini juga, kami akan lakukan pengiriman beras dari Jabar ke Sumatra," imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, hal ini merupakan bentuk kolaborasi yang baik antara pusat dan daerah mengingat Pemprov tidak bisa sendiri dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, ketahanan pangan adalah pokok dari pemerintahan, mengingat kekurangan pangan bisa berdampak terhadap krisis multi dimensi.

"Untuk itu, kami mendukung berbagai langkah kebijakan pemerintah pusat dalam menjaga dan memperkuat ketahanan pangan nasional, salah satunya dengan membentuk lembaga khusus di bidang pangan, seperti Badan Pangan Nasional. Maka, kami mendukung penuh NFA dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya," katanya.

Sekadar diketahui, langkah kolaboratif melakukan mobilisasi pangan ke daerah defisit yang dilakukan Pemprov Jabar bersama NFA dan Kementerian sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang menekankan agar seluruh stakeholder pangan berkolaborasi membangun konektivitas mobilisasi pangan dari daerah surplus ke daerah defisit dalam rangka menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan nasional.