Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjamin bahwa subsidi energi yang telah dirancang dalam APBN 2022 tetap aman meski saat ini tengah dihadapkan pada kenaikan harga minyak dunia.

“Dampaknya terhadap subsidi energi di APBN akan dipantau terus dan kami menilai situasi ini masih terkendali jadi tidak perlu dikhawatirkan,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam konferensi pers APBN Kita pada Selasa, 23 Februari.

Menurut Febrio, pemerintah berkomitmen untuk mengelola keuangan negara secara hati-hati dengan tetap mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas.

“Disini kami ingin memastikan bahwa daya beli masyarakat akan terus terjaga,” tutur dia.

Sebagai informasi, lonjakan harga minyak mentah dunia terus terjadi menyusul peningkatan permintaan energi di Eropa. Selain ini, ketegangan antara Rusia dan Ukraina di kawasan tersebut semakin memperparah situasi yang menyebabkan harga meroket.

Terbaru, sikap Rusia yang mulai agresif terhadap Ukraina dalam beberapa hari turut mengerek bandrol komoditas minyak mendekati level 100 dolar AS per barel.

Dalam catatan VOI, pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp134,02 triliun sebagai dana subsidi energi untuk sepanjang 2022.

Dari jumlah tersebut, subsidi jenis BBM tertentu dan LPG 3 Kg sebesar Rp77,54 triliun. Sementara Rp56,47 miliar lainnya adalah subsidi listrik.

Secara mendetail, volume LPG disepakati menjadi 8 juta metrik ton, dengan subsidi tetap minyak solar ditetapkan Rp500 perliter, dan kurang bayar dialokasikan Rp10,17 triliun.

Adapun, dalam sebuah dokumen yang disampaikan ke parlemen disebutkan jika jumlah minyak tanah yang akan disubsidi sebanyak 480.000 kilo liter dan minyak solar sebanyak 15,1 juta kilo liter.