Bagikan:

JAKARTA - Puluhan Warga Negara Asing (WNA) ditangkap di Tangerang, Banten, karena diduga menjadi sindikat kejahatan internasional dengan modus love scamming atau penipuan asmara. Mereka mengincar warga Korea Selatan yang tinggal di luar negeri.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Imigrasi Kemeterian Imigrasi dan Pemasyarakatan Yuldi Yusman menuturkan, pembongkaran sindikat kejahatan siber internasional ini bermula dari hasil penyelidikan terhadap sejumlah lokasi mencurigakan. Lokasi pertama di wilayah Gading Serpong, di mana tim menangkap 4 orang yang terdiri dari 13 warga negara Cina dan satu warga negara Vietnam saat melakukan aktivitas mencurigakan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindunga Konsmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menuturkan, penipuan berkedok cinta telah menjai tren kejahatan finansial digital yang sedang meningkat dan dilakukan secara global.

"Terbukti, di Indonesia ditemukan satu sindikat yang beroperasi secara internasional,” kata Friderica dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK.

Rekayasa Cinta

Jaringan kejahatan internasional dengan moduslove scammingini, kata Yuldi Yusman, bekerja secara terorganisasi dengan menggunakanartificial intelligenceatau kecerdasan buatan.

Komplotan sindikan tersebut mencari korban melalui media sosial kemudian menjalin komunikasi menggunakan bantuan kecerdasan buatan Hello GPT supaya percakapan terlihat menarik dan meyakinkan.

Pelaku mengirimkan foto tidak senonoh untuk menghasut korban agar melakukan panggilan video. Di saat itulah, pelaku kemudian merekam aksi tersebut dan melakukan pemerasan. Korban diancam akan disebar rekamannya jika tidak mengirimkan sejumlah uang.

Friderica Widyasari Dewi menuturkan,love scamming telah menjadi tren kejahatan finansial digital yang sedang meningkat dan dilakukan secara global. Para pelaku penipuan berkedok cinta ini menargetkan korban di beberapa negara melalui internet dan aplikasi. Dengan kata lain, kejahatan ini memiliki risiko lintas batas yang sangat tinggi.

"Para korban dimanipulasi secara emosinya, merasa memiliki hubungan ataurelationship. Kemudian, dipersuasi dan sebagainya sehingga para korban secara sukarela mentranfser sejumlah uangnya karena merasa memiliki hubungan yang spesial dengan lawan jenis atau siapa pun,” tuturnya.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Imigrasi Yuldi Yusman (tengah) menunjukkan barang bukti saat jumpa pers di gedung Direktorat Jenderal Imigrasi di Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026). (ANTARA/Walda Marison)

Secara sederhanalove scamadalah modus penipuan yang dilakukan lewat penipuanonline, di mana pelaku pura-pura menjalin hubungan romantis untuk mendapatkan kepercayaan dan uang korban. Ini menjadi salah satu kejahatan siber yang semakin marak di Indonesia.Modus operandi kejahatan ini memanfaatkan platform digital untuk menjalin hubungan percintaan palsu dengan tujuan penipuan finansial.

Dosen psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M. Psi mengatakan, dalam psikologi cinta bukan hanya urusan perasaan, melainkan juga proses biologis. Ketika seseorang merasa diperhatikan, dibalas cepat, dipuji, dan dibuat merasa istimewa, otak akan melepaskan dopamine, yaitu zat kimia yang sama yang muncul saat kita jatuh cinta, berharap, dan merasa terhubung.

Pada praktiklove scam,sinyal-sinyal ini tidak muncul secara alami, melainkan direkayasa. Para operator chat dilatih untuk merespons dengan intensitas tertentu, membangun kedekatan emosional, dan menciptakan ilusi hubungan yang eksklusif.

"Dalam hitungan hari atau minggu, korban mulai merasa “dekat”, meski tak pernah bertemu. Otak korban tidak membedakan apakah perhatian itu tulus atau dibuat-buat. Yang ia tangkap hanyalah satu hal, ada koneksi emosional," ujar Martaria.

Cinta Jembatan Eksploitasi

Hubungan daring, Martaria melanjutkan, memberi ruang besar bagi imajinasi. Tanpa kehadiran fisik, otak mengisi kekosongan dengan harapan dan proyeksi ideal. Profil yang menarik, cerita hidup yang menyentuh, serta percakapan personal menciptakan apa yang disebut psikolog sebagai illusion of intimacy, yaitu rasa dekat yang terasa nyata meski tidak berakar pada relasi sebenarnya.

Love scamtidak bekerja secara instan, melainkan secara bertahap. Dimulai dari obrolan ringan, lalu meningkat ke kedekatan emosional, kemudian perlahan mengaitkan afeksi dengan transaksi.

Hadiah kecil, koin digital, akses konten, yang semuanya dibingkai sebagai bentuk perhatian dan pembuktian cinta. Dalam psikologi persuasi, ini dikenal sebagai teknikfoot-in-the-dooryaitu permintaan kecil membuka jalan bagi permintaan lebih besar.

"Cinta dijadikan jembatan menuju eksploitasi. Yang dieksploitasi bukan hanya uang, tapi juga harapan akan dicintai," tuturnya.

Akibat kejahatan itu, para korban mengalami kerugian finansial dalam jumlah yang sangat besar. Hingga akhir 2025, Pusat Anti-Penipuan Indonesia (IASC) telah menerima 3.494 laporan dari masyarakat yang mengalami kerugian akibat moduslove scamming.Total kerugiannya mencapai Rp49,19 miliar.

Sementara itu, data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa sebanyak 2.267 warga Indonesia telah menjadi korban penipuanonlinedalam berbagai bentuk, termasuklove scamming.

Kasus ini, kata Martaria, memberi cerminan bahwa di era digital, manipulasi tidak selalu datang dalam bentuk ancaman. Ia bisa datang dalam bentuk perhatian.

"Cinta, jika tidak disertai kesadaran dapat melemahkan nalar. Literasi digital saja tidak cukup, kita juga perlu literasi emosional, yaitu kemampuan mengenali kapan perasaan kita sedang disentuh, diarahkan, dan dimanfaatkan," Martaria menerangkan.

"Karena ketika otak sudah mengira itu cinta, batasan antara ketulusan dan manipulasi menjadi sangat tipis," tandasnya.