Studi Terbaru yang akan Dibenci Peminum: Tak Ada Batas Aman dalam Konsumsi Alkohol
Val Kilmer memerankan Jim Morrison dalam film The Doors (Sumber: IMDB)

Bagikan:

JAKARTA - Sebuah studi terbaru mengangkat dampak konsumsi alkohol bagi otak manusia. Iya, sudah banyak studi lain yang terdengar minor bagi para peminum. Tapi studi ini menegaskan tak ada tempat untuk alkohol di tubuh kita.

Masih banyak dari kita yang barangkali berpikir alkohol cukup aman jika diminum dalam jumlah sedikit. Memang, segelas anggur atau sesloki whiskey mungkin tak memabukkan bagi banyak orang. Tapi tubuh merespons beda dari dalam.

Studi terbaru University of Oxford mempelajari hubungan konsumsi alkohol dengan kinerja otak manusia. Studi observasi itu melibatkan 25 ribu orang Inggris.

Lewat pemindaian otak, para peneliti menemukan orang yang meminum alkohol memiliki lebih sedikit area brain grey di otak mereka. Brain grey juga dikenal dengan materi abu-abu, yakni komponen utama sistem saraf pusat.

Materi abu-abu terdiri dari badan sel saraf, neuropil, sel glial, sinapsis, serta kapiler. Materi abu-abu dibedakan dari materi putih karena ia mengandung banyak badan sel dan relatif sedikit akson bermielin.

Hal ini jadi peringatan bagi para peminum karena materi abu-abu berfungsi penting dalam memproses informasi. "Semakin banyak orang minum, semakin sedikit volume materi abu-abu di otak mereka," Anya Topiwala, seorang peneliti klinis senior di Oxford, dikutip CNN.

Merusak meski sedikit

Menurut Topiwala, berkurangnya volume materi abu-abu di otak manusia sebenarnya natural. Ada faktor usia yang biasa jadi penyebab, katanya.

Namun bagi para peminum, alkohol memberi kontribusi 0,8 persen terhadap berkurangnya materi abu-abu. Dan bagai tak ada kompromi sebab alkohol, meski dalam jumlah sedikit tetap berpengaruh terhadap faktor ini.

Tak ada batas aman dalam konsumsi alkohol, begitu mereka menyimpulkan. Para peneliti juga menegaskan tak ada yang lebih baik antara anggur, bir, ataupun jenis alkohol lainnya. Semua memiliki risiko yang sama.

Tony Rao, seorang peneliti di King's College London mengatakan senada. Kata dia hasil observasi Oxford sejatinya adalah penegasan bahwa minum alkohol dalam jumlah berapapun tetap menyebabkan risiko pada otak.

"Bahkan jika minum sedikit, ada bukti bahwa konsumsi alkohol memainkan peran besar dalam kerusakan otak daripada yang diperkirakan sebelumnya," tuturnya.

*Baca Informasi lain soal PENGETAHUAN atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

BERNAS Lainnya