JAKARTA – Asap putih mengepul, pertanda gereja Katolik memiliki Paus baru. Para kardinal memilih Robert Francis Prevost, 69 tahun, sebagai penerus Santo Petrus yang ke-267 untuk memimpin gereja, menggantikan Paus Fransiskus yang meninggal dunia bulan lalu.
Prevost menggunakan nama Leo XIV dan ia menjadi orang Amerika Serikat pertama yang menduduki peran Paus. "Leone! Leone! Leone" terucap dari seluruh masyarakat yang menantikan kehadiran Paus baru.
Paus Leo XIV terpilih pada hari kedua konklaf. Dalam pidato pembukanya sebagai pemimpin, ia mengisyaratkan kelanjutan Fransiskus, yang meninggal dunia pada 21 April dalam usia 88 tahun.
Sementara itu, ribuan orang di St. Peter's Square meneriakan nama Leo, yang resmi menjadi pengganti Paus Fransiskus. “Damai sejahtera bagimu,” adalah kata-kata pertamanya sebagai Paus.
Di usia 68, Leo XIV lebih muda dibandingkan dua pendahulunya ketika mereka terpilih sebagai Paus. Fransiskus berusia 76, sedangkan Benediktus XVI berusia 78 saat pertama kali menjadi Paus. Meski demikian, Leo lebih tua dibandingkan Yohanes Paulus II, yang berusia 58 tahun ketika ia ditunjuk sebagai Paus dan menjadikannya sebagai salah satu paus termuda dalam sejarah modern.
Perjuangkan Hak Pekerja
Lahir di Chicago pada 1955 dari ibu keturunan Spanyol dan ayah Amerika berdarah Prancis, Prevost tumbuh di kota kelahirannya bersama kedua saudaranya Louis Martin dan John Joseph.
The Chicago Sun-Times pada pekan lalu mengutip pernyataan teman-teman Leo dan sesama jemaat gereja yang mengatakan bahwa ia mendedikasikan dirinya pada iman dan jalan menuju imamat sejak usia muda.
Leo sendiri lulus dengan gelar sarjana matematika dari Universitas Villanova di Pennsylvania pada 1977. Ia juga menempuh pendidikan agama di Catholic Theological Union of Chicago.
Ia ditahbiskan sebagai pastor pada 1982. Lima tahun berselang, ia mendapat gelar S3 dan pada tahun yang sama terpilih sebagai direktur misi untuk Ordo Agustinus di Illinois, AS.
Salah satu hal pertama yang dilakukan Paus terpilih adalah memilih nama baru. Hal ini adalah tradisi yang sudah berlangsung sangat lama, meski tidak selalu seperti itu. Selama lebih dari 500 tahun, para Paus menggunakan nama mereka sendiri.
Ini kemudian berubah menjadi nama simbolis untuk menyederhanakan nama asli mereka, atau untuk merujuk pada Paus sebelumnya. Paus sering kali memilih nama-nama pendahulu mereka. Alasannya sebagai bentuk rasa hormat maupun kekaguman, sekaligus menandakan keinginan mengikuti jejak mereka.
Sebagai contoh, Paus Fransiskus mengatakan bahwa namanya diambil dari Santo Fransiskus Asisi, yang meninggalkan harta benda dan mengabdikan hidupnya untuk orang miskin. Mendiang juga terinspirasi oleh temannya dari Brasil, Kardinal Claudio Hummes.
Sejauh ini Paus belum memberikan penjelasan soal mengapa ia memutuskan memilih nama Leo XIV. Namun yang pasti, nama Leo telah digunakan oleh banyak Paus. Yang terakhir memakai nama Leo adalah Paus Leo XIII, warga Italia yang memiliki nama lahir Vincenzo Gioacchino Pecci.
Ia terpilih pada 1878, dan menjadi penerus Santo Petrus ke-256 dan memimpin Gereja Katolik hingga kematiannya pada 1903. Ia dikenang sebagai Paus yang berdedikasi terhadap kebijakan dan keadilan sosial, terutama untuk memperjuangkan hak-hak pekerja.
“Sampai saat itu, hirarki gereja cenderung diidentikkan dengan kelas atas, sehingga Leo XIII mengalihkan perhatiannya ke gereja, dan tentu saja banyak Paus sejak saat itu yang membangunnya,” ucap Pastor James Bretzke, profesor teologi di Universitas John Carroll kepada Al Jazeera.
Kritik Donald Trump
Leo diyakini akan mengikuti jejak Fransiskus. Mendiang Paus dipandang sebagai tokoh transformasional yang membawa gereja ke arah progresif dan berfokus pada upaya memperjuangkan hak-hak kaum miskin dan terpinggirkan.
“Mari kita dengarkan suara Paus Fransiskus yang lemah namun selalu berani, yang memberkati Roma dan dunia pada pagi Paskah,” kata Leo.
Dalam pesan Paskah terakhirnya, beberapa hari sebelum meninggal dunia, Fransiskus menyerukan perdamaian dan gencatan senjata di Timur Tengah.
Pemimpin gereja bukanlah politisi, namun agama terkait erat dengan urusan publik. Leo sendiri sudah mulai memberikan petunjuk soal arah politiknya selama bertahun-tahun, terutama dalam mengadvokasi hak-hak migran.
Ia dianggap sebagai tokoh yang mendukung keberlanjutan reformasi Fransiskus di Gereja Katolik. Leo juga diyakini memiliki pandangan yang sama dengan Fransiskus tentang migran.
BACA JUGA:
Pada 2015, Leo membagikan artikel oleh Kardinal Timothy Dolan, yang mengkritik usulan anti-imigrasi Donald Trump, yang kala itu masih menjadi kandidat presiden.
Pada Februari, ia kembali muncul untuk mengkrktik kebijakan imigrasi pemerintahan Trump, dengan menyorot argumen Wakil Presiden JD Vance bahwa orang harus lebih mencintai orang lain yang dekat dengan mereka daripada orang asing.
Sebagai kardinal, Leo tak segan menentang pandangan Wakil Presiden JD Vance. Ia mengunggah ulang unggahan di platform media sosial X yang mengkritik deportasi seorang warga AS ke El Salvador oleh pemerintahan Trump, dan membagikan komentar kritis secara tertulis tentang wawancara TV Fox News dengan JD Vance.
Leo membagikan sebuah artikel yang menyatakan: “JD Vance salah: Yesus tidak meminta kita untuk menentukan peringkat kasih kita kepada orang lain.”