Bagikan:

JAKARTA – Telah terjadi tren peningkatan aktivitas gadai selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. Menurut ekonom, lonjakan ini mencerminkan daya beli masyarakat yang melemah.

Sepanjang Ramadan hingga momen Idulfitri, kebutuhan masyarakat mengalami penigkatan. Namun karena kondisi ekonomi yang tengah lesu, masyarakat harus menggadaikan barang berharga mereka.

Hal ini terlihat dari meningkatnya transaksi gadai di PT Pegadaian selama bulan Ramadan, utamanya pada pekan-pekan awal, seiring meningkatnya kebutuhan dana masyarakat menjelang Idulfitri.

Peningkatan aktivitas gadai terjadi di Kantor Pegadaian Cabang Bengkulu sejak menjelang Ramadan 2025. Perhiasan emas, surat kendaraan bermotor, dan barang elektronik termasuk yang paling banyak digadaikan warga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kepala Kantor Pegadaian Cabang Bengkulu Noveldi menuturkan kantornya ramai dikunjungi warga sejak awal Januari 2025.

Nasabah mengakses layanan aplikasi penunda pembayaran (paylater). (ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas/Spt)

Hal yang sama juga dialami Pegadaian Kantor Wilayah (Kanwil) III Sumbagsel, yang mencatat kinerja OSL gadai dari awal hingga pertengahan Ramadan tahun ini telah mengalami peningkatan lebih dari enam persen secara year to date (ytd) dan 30 persen year on year.

THR Tidak Cukup

Direktur Keuangan, Perencanaan Strategis, dan Manajemen Risiko Pegadaian Ferdian Timur Satyagraha menuturkan, realisasi transaksi gadai naik 11 persen dibandingkan bulan biasa.

"Kami mencatat adanya lonjakan transaksi gadai sebesar 11 persen selama Ramadan, terutama pada minggu-minggu awal. Masyarakat umumnya mengakses dana tambahan untuk keperluan lebaran," ujar Ferdian, mengutip Tempo.

Selain itu, rata-rata besaran pinjaman yang diajukan masyarakat juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, rata-rata pinjaman di pegadaian berkisar Rp5 juta sampai Rp6,5 juta.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan, mendekati Idulfitri, memang secara siklus akan terjadi permintaan untuk pembiayaan, baik melalui gadai maupun buy now pay later (BNPL).

Seorang warga melakukan transaksi gadai di pegadaian Jalan Gajahmada, Tegal, Jateng. (ANTARA/Oky Lukmansyah/ed/pd/11)

Dijelaskan Huda, pembiayaan tersebut digunakan untuk keperluan mudik dan berwisata. Namun bagi mereka yang tidak cukup biaya, memilih untuk mencari pembiayaan atau utang.

“Dulu mungkin bisa berutang ke tetangga atau keluarga. Sekarang beralih ke gadai ataupun BNPL,” kata Huda ketika dihubungi VOI.

Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan untuk mencairkan Tunjangan Hari Raya (THR) para aparatur negara sejak Senin (17/3/2025). Namun karena kondisi ekonomi dalam negeri yang sedang lesu, peningkatan gadai dinilai bukan sesuatu yang mengejutkan.

“THR yang dibagikan memang tidak cukup, atau pun ya memang tidak ada THR karena adanya PHK dan sebagainya,” huda mengimbuhkan.

Masyarakat Tak Punya Uang

Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, tren peningkatan aktivitas gadai bukan sekadar kebiasaan musim yang memang biasa terjadi setiap menjelang Idulfitri.

Hal ini, kata Esther, mencerminkan daya beli masyarakat yang lemah.

“Kalau konsumsi saat perayaan memang naik, itu wajar. Tapi masyarakat yang punya uang tidak akan menggadaikan barangnya,” tutur Esther.

Lonjakan tren gadai di kalangan masyarakat karena adanya desakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan dasar itu, mereka menggadaikan barang berharga yang ada.

Adanya pemutusan hubungan kerja alias PHK yang belakangan banyak terjadi menurut Esther menjadi salah satu penyebab terjadinya lonjakan gadai di masyaraat. Indikasi lainnya adalah deflasi selama lima bulan beruntun yang terjadi pada 2024.

Pada Februari 2025, Indonesia kembali mengalami deflasi yang menandakan konsumsi masyarakat kembali lemah. Meski pada Maret inflasi kembali naik karena momen lebaran, Esther mengatakan lonjakan tersebut masih rendah.

Selain meningkatnya transaksi gadai, hal lain yang menjadi sorotan adalah penggunaan layanan kredit digital atau paylater yang juga naik dalam beberapa bulan terakhir. Jika sebelumnya paylater digunakan untuk pembelian barang konsumsi seperti pakaian, saat ini digunakan untuk kebutuhan dasar seperti token listrik.

"Kalau paylater sudah digunakan untuk kebutuhan primer, itu sinyal daya beli masyarakat memang lemah," ujarnya.

Pengunjung berjalan keluar dari salah satu gerai fesyen di pusat perbelanjaan Kuningan City, Jakarta, Jumat (20/12/2024). (ANTARA/Fauzan/foc)

Dua fenomena ini, peningkatan gadai dan penggunaan paylater, seharusnya menjadi sinyal bagi ekonomi Indonesia setelah lebaran. Esther pun memperkirakan angka kemiskinan berpotensi bertambah setelah perayaan ini.

"Potensi kenaikan angka kemiskinan itu ada, karena kelas menengah kita sudah turun sekitar 9–10 juta orang. Mereka kini rentan jatuh miskin," kata Esther lagi.