Teroris pun Misoginis
Ilustrasi foto (Sumber: Institute for Strategic Dialogue)

Bagikan:

JAKARTA - Rabu, 31 Maret, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) dibobol perempuan bersenjata api. Empat hari sebelumnya, sepasang suami-istri jadi pengantin bom bunuh diri, menyerang Gereja Katedral Makassar. Meski bukan hal baru, keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme kembali disoroti. Ada nilai misoginis di sini.

ZA, perempuan 25 tahun masuk ke kompleks Mabes Polri lewat pintu belakang. Berjalan kaki, ia merapat ke pos di gerbang utama. ZA sempat menanyakan keberadaan kantor pos. Ia berkilah ingin mengantar surat. ZA meningggalkan pos itu. Sejenak, sebelum kembali lagi dan menyerang polisi di pos. Merespons, polisi menembak mati ZA.

"Dengan melakukan penembakan enam kali. Dua kali ke anggota (polisi) di dalam pos, dua kali di luar, dan menembak lagi kepada anggota yang ada di belakangnya," kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada wartawan, Rabu, 31 Maret.

Jenazah ZA (Sumber: Istimewa)

Listyo Sigit juga menjelaskan ZA sebagai 'lone wolf'. ZA berideologi Islamic State Iraq Syria (ISIS). Kesimpulan itu didasari oleh temuan akun Instagram yang dikatakan milik ZA. Di dalam akun itu ditemukan unggahan gambar bendera ISIS dengan tulisan-tulisan tentang jihad. Yang menarik, akun itu diketahui baru dibuat beberapa jam sebelum peristiwa.

"Di dalamnya (Instagram) ada bendera ISIS dan ada tulisan terkait bagaimana perjuangan jihad," papar Listyo Sigit. Polisi kemudian menggerebek rumah ZA yang teridentifikasi sebagai warga Ciracas, Jakarta Timur. Di rumah itu polisi menemukan surat wasiat. ZA juga diketahui sempat berpamitan di grup WhatsApp keluarga.

Misoginis dalam terorisme

ZA bukan pertama. Dan keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme bukan baru. Tengok yang terdekat, bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Pengamat terorisme, Al Chaidar melihat dua aksi terakhir memiliki benang merah yang tegas: balas dendam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kepada polisi. Dan JAD sengaja mengutus perempuan.

Al Chaidar menyebut apa yang kita lihat dari gerakan teror di lapangan yang melibatkan perempuan sebagai turunan dari perspektif misoginis di lingkaran mereka. Kata Chaidar, para laki-laki dalam gerakan teroris ini memandang perempuan sebagai umpan peluru.

"Ini sebenarnya turunan dari gerakan misoginis. Atau boleh dikatakan (perempuan) sebagai orang yang dikorbankan karena cara berpikir laki-laki yang menganggap bahwa seakan-akan tidak dilibatkannya (perempuan) di dalam jihad selama ini itu akan mubazir," tutur Al Chaidar kepada VOI, Kamis, 1 April.

"Jadi mereka hanya mengambil azas manfaat saja dari kemunculan semangat dan sentimen yang besar dari kaum perempuan untuk berpartisipasi atau terlibat dalam gerakan jihad."

Polisi berjaga di sekitar Gereja Katedral Makassar usai ledakan (Sumber: Antara)

Psikolog, Mira Noor Milla, dalam wawancara yang dikutip Republika sempat menjelaskan karakteristik teroris perempuan yang ternyata lebih militan. Hal ini dimanfaatkan gerakan terorisme, terutama ISIS --yang merupakan akar dari JAD-- untuk meningkatkan rasio keberhasilan aksi mereka.

"Sesuai dengan rencana induk pengembangan strategi yang disebut dari kelompok pendukung ISIS itu memang menggunakan perempuan sebagai senjata karena tingkat keberhasilannya lebih tinggi," katanya.

Mira juga menyebut teroris perempuan cenderung lebih taat dan setia. Ketika pemikiran mereka berhasil dibentuk, para teroris perempuan ini akan lebih teguh, tertutup, dan sulit goyah. Sisi emosional perempuan yang lebih dominan menyebabkan ini. "Kalau dia yakin suatu hal, tidak bisa dibelokkan lagi, dan emosinya terlibat di situ," kata Mira.

Mira juga menceritakan diskusinya dengan Dian Yulia Novi, pelaku peledakan bom panci di depan Istana Negara pada Agustus 2017.  “Saya tanya, ‘kamu gimana melihat suamimu yang nganter, mau nganter istrinya yang lagi hamil untuk meledakkan dirinya. Itu suami seperti apa?" tutur dia.

Kata Mira, saat itu Dian menjawab bahwa ia akan tetap pergi meski sang suami tak mengantarkannya. Hal itu menunjukkan keteguhan dan kesetiaan teroris perempuan dalam aksi-aksi yang mereka yakini sebagai jihad.

Ciri khas JAD

Dan ini adalah ciri khas JAD. Pengamat terorisme, Al Chaidar menjelaskan ini sebagai warna pergerakan kelompok ISIS. Iya, JAD adalah sel teroris yang berakar pada gerakan ISIS. Berdasar sejarahnya, JAD terbentuk atas inisiatif Aman Abdurrahman di Nusakambangan pada medio 2014.

Kala itu Aman memanggil orang dekatnya, Marwan alias Abu Musa dan Zainal Anshori. Di sana, Aman menyampaikan niat membentuk Khilafah Islamiyah. Tujuannya untuk memfasilitasi orang-orang Indonesia yang ingin pergi berperang ke Suriah dan mendukung ISIS. Utamanya, mereka yang telah berbaiat pada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi.

Aman Abdurrahman (Sumber: Istimewa)

“Sejak didirikan oleh Al Baghdadi pada 2014 di Suriah dan Irak, paham ISIS menyebar ke banyak belahan negara, termasuk Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyatakan awalnya paham ini masuk melalui jaringan internet berupa berita, artikel, hingga video. Salah satu orang yang paling getol menyebarkan paham ISIS di Indonesia ialah Aman Abdurrahman alias Oman Rochman. Pada awal Januari 2014, Aman berbaiat kepada ISIS dan memerintahkan pengiriman pengikutnya ke sana,” tulis Nuria Reny Hariyati dan Hespi Septiana dalam buku Radikalisme dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis (2019).

[MEMORI: Akar Sejarah Jamaah Ansharut Daulah: Niat Aman Abdurrahman Mendirikan Khilafah]

Al Chaidar menjelaskan sebuah ideologi yang dibelokkan oleh gerakan ISIS, yakni ideologi wahabi takfiri. Ideologi itu adalah pengembangan dari ideologi wahabi yang ada selama ini, di mana mereka mengembangkannya melalui ulama-ulama organik kekerasan.

"Violence organic ulama, yang kemudian mengambil keputusan-keputusan sendiri yang bertentangan dengan syariat. Dan alasan bagi mereka adalah itu liberalisasi. Kesempatan bagi semua orang untuk bisa mendapatkan syahid atau langsung masuk ke surga. Kita tahu syahid adalah pahala terbesar dari semua ibadah yang ada dalam Islam," kata Al Chaidar.

Dan masifnya pelibatan perempuan ini, valid, baru terjadi di era ISIS. Era sebelumnya, di masa Jamaah Islamiyah (JI), misalnya, pelibatan perempuan dalam gerakan terorisme tak digunakan. "Kalau JI memang anti terhadap itu. Tidak mau menggunakan perempuan dan anak-anak di dalam jihad," Al Chaidar.

Ilustrasi foto (Sumber: Institute for Strategic Dialogue)

Artikel The Conversation, yang mengutip berbagai hasil riset dan studi menjelaskan, sejatinya pelibatan perempuan adalah pilihan terakhir bagi kelompok terorisme. Misalnya, dalam situasi kekurangan pejuang laki-laki.

Kondisi ini yang dialami ISIS. Di Irak dan Suriah, ISIS mengalami banyak kehilangan. Bukan cuma jumlah pejuang yang tewas tapi juga secara pengaruh. Hal ini mendorong elite ISIS menyerukan lebih banyak keterlibatan perempuan di dalam berbagai misi mereka.

Di Indonesia, pemenjaraan teroris --termasuk dari kelompok ISIS-- mendorong para pemimpin kelompok teroris lokal melakukan hal yang sama. Perempuan dilibatkan lebih aktif. Mereka yakin perempuan adalah asset yang lebih menjamin tingkat keberhasilan aksi mereka karena lebih jarang dicurigai dan tak terdeteksi sebagai teroris.

Pada 2010, seorang peneliti yang turut menyusun artikel ini pernah menemui seorang anggota teroris perempuan. Ia menyebut namanya Umm Mujahid alias ibu dari para pejuang laki-laki. Umm Mujahid, dalam kesempatan itu mengatakan:

Saya ingin panggilan saya ini menjadi doa. Saya berharap putra saya menjadi mujahid di masa depan, sehingga ia bisa membawa saya ke surga Sang Pencipta.

Fakta ini menguatkan kekhawatiran bahwa jaringan teroris telah membangun diri mereka sangat terstruktur. Kaderisasi bibit-bibit teror benar-benar terjadi di lingkup sosial terkecil: keluarga.

*Baca Informasi lain soal TERORISME atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada, Indra Hendriana, Rizky Adytia Pramana juga Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya