Bagikan:

JAKARTA - Tempe dan tahu sedang langka. Padahal itu makanan asli Indonesia, yang kadang oleh orang Amerika diberi nama keren: soybean meat. Beberapa hari belakangan nama tempe dan tahu kembali naik daun, setelah bahan makanan yang bisa dijadikan lauk maupun camilan susah ditemui di pasaran. Para produsen dan penjual mogok guna memprotes kenaikan harga kedelai impor yang gila-gilaan.

Harga kedelai naik hampir dua kali lipat. Di Jakarta, kedelai biasa dijual seharga Rp6000-9000 per kilogram. Tetapi sejak pekan lalu harga jual kedelai merambat naik, hingga mencapai Rp12 ribu per kilogram. Produsen tempe dan tahu pun megap-megap dibuatnya, karena mereka harus merogoh kocek hampir dua kali lipat sebagai modal belanja kedelai.

"Kami dari perajin tempe tahu minta maaf kepada masyarakat pecinta tempe tahu karena ini terpaksa, terpaksa dan terpaksa kita ini. Jadi minta maaf," ucap Aip Syarifuddin, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) saat dihubungi VOI, Jumat, 18 Februari.

Produsen tempe dan tahu bakal mogok produksi selama 3 hari, 21-23 Februari 2022. Sejak akhir Desember 2021 mereka sudah resah karena harga kedelai terus merambat naik setiap hari. Sebelum memutuskan mogok, sebagai Ketua Umum Aip sudah menjalankan berbagai usulan anggota Gakoptindo seperti: mengadu ke pemerintah dan mengganti bahan baku kedelai impor dengan kedelai lokal. Namun hasilnya nihil.

Produksi pabrik tahu juga terganggu gara-gara harga kedelai impor yang melonjak. (Foto: Antara)

“Akhir Desember 2021 harga kedelai mulai naik, dan naiknya tiap hari sehingga kita resah. Jadi beberapa daerah, kabupaten, kelompok gimana ini, gimana ini. Ada yang usul kita bilang ke pemerintah, ada yang bilang cari kedelai lokal, tapi tidak ada. Atau kita usul pemerintah menaikkan harga tahu tempe, atau minta subsidi. Paling tidak terakhirnya mogok,” kata Aip.

“Itu sejak Desember 2021. Suara anggota itu saya sampaikan ke pemerintah. Namun ternyata dari pemerintah, Desember, Januari, sampai pertengahan Februari tindakan kongkret di lapangan tidak ada,” kata Aip lagi.

Gakoptindo beranggapan pemerintah kurang memberi perhatian terhadap perajin tahu dan tempe. Ini diindikasikan dari kenaikan harga kedelai yang terus terjadi setiap tahun.

Indonesia Konsumen Kedelai Terbesar Setelah China

Indonesia merupakan negara dengan tingkat konsumsi kedelai terbesar kedua di dunia setelah China. Tingkat konsumsi kedelai Indonesia terus meningkat seiring pertambahan populasi penduduk. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2015 tingkat konsumsi kedelai Indonesia sebesar 3,010 juta ton. Lima tahun kemudian di 2020, tingkat konsumsi kedelai nasional menyentuh angka 3,130 juta ton.

Tetapi ironis, karena Indonesia lebih banyak memenuhi kebutuhan konsumsi kedelai melalui impor. Impor kedelai Indonesia juga terus meningkat seiring peningkatan kebutuhan konsumsi kedelai. Data dari jurnal ekonomi yang diterbitkan Universitas Negeri Padang pada 2020, impor kedelai Indonesia pada 2015 berjumlah 2,637 juta ton. Pada 2020 angka tersebut membengkak menjadi 3,398 juta ton.

Harga kedelai impor yang fluktuatif bakal terus terjadi di Indonesia. (Foto: Antara/Adeng Bustomi)

Di sisi lain, luasan lahan pertanian di Indonesia dari tahun ke tahun juga semakin menyusut. Pada 1980 hingga awal 1990-an luas lahan pertanian kedelai di sempat menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dari semula 0,732 juta hektar pada 1980, luas lahan pertanian kedelai menjadi 1,667 juta hektar di 1992. Namun sejak saat itu luas lahan pertanian kedelai terus menurun, hingga hanya tersisa 680 ribu hektar di tahun 2018.

Luasan lahan yang terus menurun jelas berimbas pada produksi kedelai yang juga terdegradasi. Menurut data dari Kementerian Pertanian, produksi kedelai nasional selama kurun waktu 2015-2019 menurun 15,54 persen per tahun. Jelas sudah, tidak mungkin mengharapkan pemenuhan kebutuhan nasional terhadap kedelai dari produksi lokal.

Pertanian Kedelai di Amerika Serikat

Impor kedelai adalah jalan yang ditempuh Indonesia untuk memenuhi kebutuhan nasional. Saat ini ada lima negara utama sebagai pengimpor kedelai untuk Indonesia. Kelima negara tersebut adalah: Amerika Serikat (2,15 juta ton), Kanada (232 ribu ton), Argentina (89,9 ribu ton), Brasil (9,24 ribu ton), dan Malaysia (5,5 ribu ton). Angka-angka tersebut adalah data yang dirilis BPS pada 2021.

Berbeda dengan Indonesia, Amerika Serikat sebagai pemasok utama kedelai ke tanah air justru mengalami peningkatkan luasan lahan pertanian kedelai. Pada 2017 luas lahan pertanian kedelai di Negeri Paman Sam adalah 90,2 juta hektar. Setahun kemudian, angka tersebut bertambah 800 ribu hektar menjadi 91 juta hektar.

Amerika Serikat menyebut daerah khusus pertanian kedelai sebagai soybean belts states, negara bagian kedelai. Wilayahnya tersebar di seantero negeri, yaitu: Nebraska, Illinois, Indiana, Iowa, Ohio, Carolina, Virginia, Kansas, Texas, New Mexico, Georgia, Minnesota, dan New York. Pemerintah Amerika Serikat sudah menemukan formulasi pas, bahwa penanaman kedelai baru menguntungkan jika dilakukan di lahan yang luas.

Lahan pertanian kedelai di Negara Bagian Minnesota yang merupakan salah satu sentra kedelai di Amerika Serikat. (Foto: University of Minnesota Extension) 

Sebab itu setiap petani kedelai di Amerika Serikat yang biasanya diwariskan turun-temurun, rata-rata mengolah 100 hektar lahan khusus untuk komoditas pertanian biji-bijian tersebut. Bahkan menurut laman Litbang Pertanian Indonesia, ada petani di Amerika Serikat yang mengolah lahan hingga seluas 800 hektar khusus untuk kedelai.

Varietas kedelai di Amerika Serikat juga dibagi-bagi menurut golongan, mulai 0 sampai VII. Masing-masing varietas kedelai tersebut disebarkan ke setiap negara bagian yang berbeda, tergantung pada karateristik tanah dan kondisi cuaca di tempat sebuah pertanian berada.

Melalui teknologi pertanian yang canggih, kualitas kedelai Amerika Serikat diakui melebihi kualitas kedelai lokal. Masih menurut Aip yang mengilustrasikan keunggulan kualitas kedelai impor dibandingkan varietas lokal. Menurut Ketua Umum Gakoptindo tersebut, 1 kg kedelai impor dapat berkembang menjadi 1,6-1,8 kg setelah dimasak. Sementara kedelai lokal dari 1 kg hanya akan mendapatkan 1,4-1,5 kg setelah dimasak.

“Kualitas kedelai lokal memang di bawah kedelai impor, jadi sebagian besar perajin tempe lebih menyukai kedelai impor,” kata Aip lagi.

Ancaman Buat Petani Lokal

Indonesia sebenarnya juga mempunya sentra-sentra pertanian kedelai, seperti di Amerika Serikat. Jawa Timur adalah pemasok terbesar, disusul Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Namun kendala penyusutan lahan, tidak membuat sentra-sentra kedelai nasional tersebut berkembang.

Ketergantungan Indonesia akan kedelai impor yang semakin meningkat, jelas membahayakan potensi pertanian lokal. Petani kedelai akan semakin berat menjual hasil pertanian mereka jika lahan semakin sempit, ditambah varietas yang kalah unggul.

Lahan pertanian di Madiun, Jawa Timur yang merupakan sentra kedelai di Indonesia. (Foto: Dok. Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi/Balitkabi)

Konsumen nasional yang lebih tertarik untuk membeli kedelai impor juga menjadi faktor penghambat para petani lokal menanam kedelai. Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor juga membuat harga kedelai di pasaran menjadi fluktuatif dan sulit dikendalikan oleh Pemerintah Indonesia sekalipun.

Pemerintah Indonesia sudah pernah mengeluarkan kebijakan Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 45/M-Dag/Per/8/2013 dan Rencana Starategis Kementrian Pertanian 2015- 2019 untuk melindungi petani lokal. Isi dari kebijakan tersebuat adalah untuk menstabilisasikan harga kedelai dan membuat perencanaan untuk swasembada kedelai pada tahun 2016.

Namun aturan tersebut mejan, karena Indonesia memang tidak punya cukup lahan untuk menanam kedelai. Percuma saja mengembangkan varietas unggul jika tidak ada lahan untuk menanam. Jadi jangan heran jika harga kedelai akan terus naik turun, dan tempe tahu pun jadi barang langka.