Polemik Syarat Tes PCR, IDI: Tolong Diingat Juli-Agustus yang Meninggal Setiap Hari 2.000 Orang
Tes PCR (Wardhani/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), buka suara terkait polemik tes polymerase chain reaction (PCR) sebagai syarat penerbangan. Kebijakan ini berlaku menyusul diperpanjangnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Ketua Satuan Tugas COVID-19 PB IDI, Zubairi Djoerban mengatakan keputusan untuk menggunakan PCR sebagai syarat penerbangan sudah tepat. Menurutnya, kewajiban ini sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah Indonesia.

Sebab, kata dia, meski kasus sudah melandai namun harus tetap berhati-hati agar tidak terjadi lagi lonjakan kasus COVID-19 di tanah air.

“Kasus COVID-19 kita saat ini sudah landai, positivity rate sudah di bawah 2 persen amat sangat bagus. Rumah sakit juga sudah sepi. Jadi waktunya untuk lebih longgar, artinya boleh melakukan perjalanan namun keamanan juga tetap terjaga,” ujar Zubairi dalam keterangannya, Minggu, 24 Oktober.

Zubairi menjelaskan, keputusan wajib menggunakan tes PCR bagi penumpang pesawat ini agar tidak terjadi klaster-klaster baru COVID-19. Apalagi, aktivitas masyarakat mulai diizinkan untuk dibuka seperti tempat pariwisata, pusat perbelanjaan, juga sekolah tatap muka.

“Kalau dulu, antigen itu dibolehkan itu supaya lebih cepat supaya lebih murah. Nah, sekarang kan berbagai tempat sudah dilonggarkan baik pariwisata, baik sekolah tatap muka baik, tempat perbelanjaan, jadi karena sudah dilonggarkan saya kira patut diperketat untuk tidak terjadi klaster-klaster baru,” ungkap Zubairi.


Menurutnya, tes PCR paling bagus untuk screening COVID-19 dibandingkan dengan menggunakan GeNose ataupun antibodi lewat tes antigen.

“Jadi tolong diingat juga dulu kita pernah screening pakai GeNose, screening pakai antibodi, kemudian terbukti nggak begitu bagus. Ya udah sekarang terbukti juga bahwa PCR lebih baik dari antigen memang harganya agak mahal. Tapi kan menjadi lebih aman,” katanya.

Screening ketat dengan PCR ini, tambah Zubairi, dilakukan agar tidak terjadi lonjakan kasus COVID-19 lagi seperti pada bulan Juli-Agustus.

“Bayangin, tolong diingat pada Juli-Agustus itu yang meninggal setiap hari di Indonesia tuh 2.000 orang lebih, kita di puncak paling tinggi. Sekarang turun banget, kalau harian kasus baru mingguan itu kita sudah nomor 54 dunia, yang tadinya nomor 1 dan sekarang turun banget," katanya.

"Nah, saya kira nggak ada yang ingin ke nomor satu lagi. Kita memang harus lebih ketat,” sambung dia.