Menlu Prancis Merasa Ditikam dari Belakang Soal Kapal Selam Nuklir, PM Australia: Saya Sudah Menjelaskan
Perdana Menteri Australia Scott Morrison. (Wikimedia Commons/Australian Embassy Jakarta)

Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan pada Hari Jumat, dirinya telah menjelaskan kemungkinan Australia membatalkan kesepakatan pemesanan kapal selam 2016 dengan sebuah perusahaan Prancis, dalam pembicaraan dengan Presiden Prancis pada Bulan Juni, menolak kritik Prancis tidak menginformasikan sebelumnya.

Australia pada Hari Kamis mengatakan akan membatalkan kesepakatan senilai 40 miliar AS dengan pembuat kapal Prancis Naval Group, untuk membangun armada kapal selam konvensional. Sebaliknya, akan membangun setidaknya delapan kapal selam bertenaga nuklir dengan teknologi AS dan Inggris setelah mencapai kemitraan keamanan trilateral.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menggambarkan keputusan itu sebagai tikaman dari belakang dan brutal. Pada Hari Kamis, PM Morrison mengatakan Prancis telah diberitahu tentang keputusan itu sebelum pengumuman, tetapi Prancis membantahnya.

PM Morrison pada Hari Jumat mengakui kerusakan pada hubungan Australia-Prancis. Tetapi, ia bersikeras telah memberi tahu Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Bulan Juni, jika Australia telah merevisi pemikirannya tentang kesepakatan itu dan mungkin harus membuat keputusan lain.

"Saya membuatnya sangat jelas, kami makan malam yang panjang di Paris, membahas kekhawatiran kami mengenai kemampuan kapal selam konvensional untuk menghadapi lingkungan strategis baru yang kami hadapi," jelasnya kepada 5aa Radio, seperti mengutip Reuters 17 September.

"Saya menjelaskan dengan sangat jelas, ini adalah masalah yang perlu diambil Australia untuk kepentingan nasional kita," sambungnya.

Sebelumnya, Amerika Serikat, Inggris dan Australia mengatakan mereka akan membangun kemitraan keamanan untuk Indo-Pasifik yang akan membantu Australia memperoleh kapal selam nuklir AS. Itu membatalkan kesepakatan kapal selam rancangan Prancis senilai 40 miliar dolar AS.

"Keputusan brutal, sepihak, dan tak terduga ini mengingatkan saya pada apa yang dulu dilakukan Trump," kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian kepada radio franceinfo.

"Saya marah dan pahit. Ini tidak dilakukan di antara sekutu," tegasnya.

Dua minggu lalu, Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri Australia telah menegaskan kembali kesepakatan itu ke Prancis. Sementara, Presiden Prancis Emmanuel Macron memuji kerjasama puluhan tahun di masa depan, ketika menjamu Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada Juni.

"Itu adalah tikaman dari belakang. Kami menciptakan hubungan saling percaya dengan Australia dan kepercayaan itu telah rusak," tukas Le Drian.

Untuk diketahui, Prancis akan mengambil alih kepresidenan Uni Eropa, yang pada Hari Kamis merilis strateginya untuk Indo-Pasifik, berjanji untuk mencari kesepakatan perdagangan dengan Taiwan dan mengerahkan lebih banyak kapal untuk menjaga rute laut tetap terbuka.