Militer Asing Angkat Kaki, China: Afghanistan Membuka Lembaran Baru
Ilustrasi tentara Taliban. (Wikimedia Commons/VOA)

Bagikan:

JAKARTA - China menyebut penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan, sebagai 'membuka halaman baru' pasca-konflik 20 tahun, Selasa, setelah sebelumnya juga mengkritik proses keluar yang dinilai kacau-balau.

Beijing berulang kali mengecam apa yang dilihatnya sebagai penarikan AS yang tergesa-gesa dan tidak terencana, mengatakan kesiapan untuk memperdalam hubungan 'persahabatan dan kooperatif' dengan Taliban setelah pengambilalihan mereka.

Amerika Serikat menyelesaikan penarikan militernya dari Afghanistan pada hari Senin lalu, mengakhiri perang terpanjangnya dengan teriakan rasa malu di dalam negeri dan tembakan perayaan di Kabul dari Taliban.

"Afghanistan telah mampu membebaskan diri dari pendudukan militer asing," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin pada briefing reguler, mengutip Sputnik News 31 Agustus.

"Rakyat Afghanistan telah mengantarkan awal baru bagi perdamaian dan rekonstruksi nasional dan Afghanistan telah membuka halaman baru," sebutnya.

Kedutaan Besar China di Kabul tetap beroperasi, meskipun Beijing mulai mengevakuasi warga China dari negara itu beberapa bulan lalu karena keamanan yang memburuk.

Kendati demikian, Beijing belum mengakui Taliban sebagai pemerintah de facto, dan waspada terhadap kelompok militan yang memberikan dukungan kepada separatis Uighur, minoritas Muslim yang ingin menyusup ke wilayah perbatasan sensitif Xinjiang.

"Kami berharap Afghanistan akan membentuk pemerintahan yang terbuka, inklusif, dan mewakili secara luas dan dengan tegas menindak semua jenis kekuatan teroris," jelas Wang.

Sebelumnya, delegasi tingkat tinggu Taliban bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Tianjin bulan lalu, berjanji Afghanistan tidak akan digunakan sebagai basis bagi militan.

Bagi Beijing, pemerintahan yang stabil dan kooperatif di Kabul akan membuka jalan bagi perluasan upaya infrastruktur luar negerinya, kata para analis. Sementara, Taliban mungkin menganggap China sebagai sumber investasi dan dukungan ekonomi yang penting.

Untuk diketahui, perusahaan-perusahaan China juga telah mengincar tambang tembaga dan lithium yang luas di Afghanistan> Tetapi, para ahli mengatakan situasi keamanan yang berbahaya, berarti setiap komoditas langsung yang terburu-buru oleh investor tidak mungkin terjadi.