DKI Diminta Gencarkan Vaksinasi Anak, Wagub: Kita Upayakan Terus di Sekolah atau Pesantren
Wagub DKI Jakarta Riza Patria/ DOK ANTARA

Bagikan:

JAKARTA - Pemprov DKI diminta untuk mempercepat pelaksanaan vaksinasi COVID-19 pada anak berusia 12 sampai 17 tahun. Menanggapi hal ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengaku vaksinasi anak belum maksimal.

"Kalau anak-anak itu, vaksinasi ditargetkan kurang lebih satu juta orang lebih. Memang, saat ini masih belum mencapai 50 persen," kata Riza kepada wartawan, Selasa, 27 Juli.

Tapi Riza menegaskan pihaknya akan menggencarkan vaksinasi pada anak dengan pelaksanaan di instansi pendidikan tiap siswa.

"Tapi kita akan upayakan terus dengan pelaksana vaksin di sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren," ucap dia.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi E DPRD DKI Anggara Wicitra Sastroamidjojo meminta Pemprov DKI mengejar vaksinasi COVID-19 pada anak. Sebab, saat ini vaksinasi usia 12-17 tahun baru 44,2 persen.

Padahal, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diberi target oleh Presiden Joko Widodo untuk merampungkan vaksinasi pada 7,5 juta warga sampai akhir bulan Agustus.

Anggota Fraksi PSI DPRD DKI ini meminta Anies memberi wewenang Dinas Pendidikan untuk menjadi penyelenggara vaksinasi di sekolah sehingga percepatan vaksinasi anak dapat tercapai.

"Kerja sama lintas sektor antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan seharusnya tidak hanya sekedar berbagi database anak di Jakarta yang menjadi acuan peserta vaksinasi," kata Anggara dalam keterangannya.

Apalagi, Anggara mendapat laporan Dinas Kesehatan mengaku sumber dayanya terbatas dan kewalahan untuk mengejar target vaksinasi bagi masyarakat umum.

"Beban Dinas Kesehatan sudah terlalu banyak, tidak mungkin bisa mengejar vaksinasi di 2000-an sekolah negeri di Jakarta,” ucap dia.

Untuk itu, Dinas Pendidikan diminta proaktif menurunkan satuan pelaksana untuk mendata dan mendaftarkan peserta vaksinasi anak di wilayah masing-masing, termasuk mengedukasi orang tua murid mengenai pentingnya vaksinasi di masa pandemi ini.

“Jangan hanya mengejar pembelajaran tatap muka, tapi tidak berupaya memberikan perlindungan kepada murid-murid melalui vaksinasi,” tutur Anggara.