Bagikan:

SURABAYA - Ancaman tenggelamnya kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa kini disebut semakin nyata akibat penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan pemerintah akan mempercepat pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa untuk melindungi kawasan pesisir utara Jawa.

Menurut AHY, fenomena penurunan muka tanah atau land subsidence di sejumlah wilayah Pantura mencapai 15 hingga 20 sentimeter per tahun.

“Kalau ini terus dibiarkan, masyarakat di kawasan Pantura akan semakin terancam. Kita tidak bisa menunggu terlalu lama,” ujar AHY, Kamis 21 Mei.

Ia menegaskan proyek giant sea wall menjadi langkah strategis untuk melindungi keselamatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan pesisir.

Wilayah yang menjadi fokus utama proyek tersebut antara lain kawasan Teluk Jakarta hingga pesisir Jawa Tengah seperti Semarang, Kendal, dan Demak yang mengalami penurunan tanah paling ekstrem.

Pemerintah juga membentuk badan otoritas khusus untuk mempercepat realisasi megaproyek tersebut.

Proyek giant sea wall ditargetkan mulai dibangun pada 2027 dan akan melibatkan integrasi wilayah di lima provinsi, 20 kabupaten, serta lima kota di sepanjang Pantura Jawa.

AHY menegaskan pembangunan tanggul laut raksasa bukan untuk membatasi aktivitas nelayan, tetapi melindungi kawasan permukiman dari ancaman banjir rob.

“Bukan berarti nanti ada tembok yang membuat nelayan tidak bisa melaut. Justru kita ingin melindungi mereka dan meningkatkan kesejahteraannya,” katanya.

Pemerintah juga mengklaim proyek tersebut akan terintegrasi dengan konsep kampung nelayan merah putih agar aktivitas ekonomi masyarakat pesisir tetap berjalan produktif.