JAKARTA - Polandia menahan tiga warganya yang diduga memata-matai penempatan pasukan NATO, mempersiapkan aksi sabotase dan menyebarkan disinformasi atas nama Rusia, kata pihak berwenang pada Hari Rabu.
Polandia mengatakan perannya sebagai pusat pasokan militer dan lainnya ke Ukraina telah menjadikannya target mata-mata Rusia yang mencoba mengumpulkan informasi tentang dukungan untuk upaya Kyiv dalam menangkis invasi Rusia, serta terlibat dalam aksi sabotase.
"Petugas (Badan Keamanan Dalam Negeri atau ABW) menahan tiga orang yang diduga melakukan kegiatan spionase atas nama Federasi Rusia. Para tahanan adalah warga negara Polandia, laki-laki berusia 48 hingga 62 tahun," tulis Menteri Layanan Khusus Polandia Tomasz Siemoniak di media sosial, melansir Al Arabiya dari Reuters (20/5).
"Mereka dituduh melakukan kegiatan intelijen – pengintaian penempatan pasukan NATO di wilayah Republik Polandia, serta memproduksi dan menyebarkan materi propaganda dan disinformasi," lanjutnya.
Pengadilan memutuskan penahanan sementara mereka selama tiga bulan, tambahnya.
Sementara itu, ABW menyatakan dalam sebuah pernyataan, penangkapan tersebut terjadi pada 12 Mei.
Para pria tersebut juga didakwa memproduksi dan menyebarkan materi propaganda dan disinformasi, mempersiapkan sabotase dan subversi, mempromosikan simbol-simbol yang mendukung agresi Rusia terhadap Ukraina, dan secara terbuka memuji perang tersebut, kata ABW.
"Para tahanan, yang ditugaskan oleh seorang warga negara Rusia yang teridentifikasi dan terkait dengan Dinas Keamanan Federal Federasi Rusia, juga melakukan kegiatan pengumpulan intelijen, termasuk mengidentifikasi lokasi pasukan NATO yang ditempatkan di Polandia," jelas ABW.
BACA JUGA:
"Para anggota kelompok tersebut dilatih untuk melakukan sabotase dan tugas-tugas subversif melalui pelatihan senjata api dan pelatihan taktik medan perang," tandasnya.
Terpisah, Kedutaan Besar Rusia di Polandia belum menanggapi permintaan komentar.
Diketahui, Polandia termasuk di antara banyak negara Eropa yang telah menangkap orang-orang yang dicurigai melakukan spionase, melakukan serangan siber, atau merencanakan sabotase sebagai bagian dari apa yang mereka sebut sebagai perang hibrida yang dilancarkan Moskow terhadap mereka karena mendukung perjuangan Ukraina melawan invasi Rusia.