JAKARTA - Juru bicara Presiden Taiwan Lai Ching-te, Karen Kuo, mengatakan ancaman militer China adalah "satu-satunya faktor destabilisasi" di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Selat Taiwan.
Mengutip Reuters, Minggu 17 Mei, pernyataan Kuo ini mengisyaratkan desakan Taiwan agar AS memasok paket penjualan senjata kedua ke Taiwan.
Meskipun tidak ada hubungan diplomatik secara formal, AS adalah pendukung internasional terpenting bagi Taiwan,kawasan yang diklaim China sebagai wilayahnya.
AS terikat oleh Undang-Undang Hubungan Taiwan untuk menyediakan senjata ke pulau tersebut. Namun, Kuo telah menegaskan pasokan senjata AS ke negaranya dapat didasari pada hukum AS dan berfungsi sebagai pencegah bersama terhadap ancaman regional.
“Lebih lanjut, penjualan militer antara Taiwan dan AS bukan hanya cerminan komitmen keamanan AS terhadap Taiwan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Hubungan Taiwan, tetapi juga berfungsi sebagai pencegahan timbal balik terhadap ancaman regional,” katanya pada Sabtu 16 Mei.

Kuo menambahkan, Taiwan berterima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas dukungannya yang berkelanjutan untuk keamanan di Selat Taiwan, dan diharapkan kedua negara terus memperdalam kerja sama.
Adapun pada Desember 2025, Pemerintahan Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan. Reuters melaporkan bahwa paket kedua, senilai sekitar 14 miliar dolar AS, masih menunggu persetujuan Trump.
Mengenai paket kedua, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Chen Ming-chi ketika dimintai tanggapan oleh wartawan pada Sabtu pagi 16 Mei menolak berkomentar. Ia hanya mengatakan Taiwan akan terus berkomunikasi dengan AS untuk memahami situasi dari sisi AS.
Pemerintah Taiwan mengalami hambatan dalam upaya meloloskan tambahan anggaran pertahanan sebesar 40 miliar dolar AS di parlemen yang dikendalikan oposisi. Awal bulan ini, parlemen menyetujui dua pertiga dari yang diinginkan pemerintah, tetapi menetapkan bahwa dana tersebut untuk senjata AS.
Sementara saat kunjungan ke Beijing bertemu Presiden China Xi Jinping pada Jumat 15 Mei, Trump mengatakan belum bisa memutuskan apakah akan melanjutkan penjualan senjata besar-besaran ke Taiwan. Ini menjadikan ketidakpastian pada dukungan AS untuk Taiwan.