Bagikan:

JAKARTA - Produk alas kaki dan turunan kelapa sawit memiliki potensi besar untuk kembangkan dalam hubungan kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang, kata Wakil Duta Besar RI untuk Jepang Maria Renata Hutagalung.

Hal tersebut dikatakan Wadubes Maria Renata, menyusul gelaran forum bisnis Indonesia-Japan Meeting and Partnership (IJMP) 2026 yang mengusung tema "Co-creating the Future of Economic Synergy and Human Resource Development."

"Alas kaki produksi Indonesia, telah dikenal menjadi bagian penting dari rantai pasok dunia. Jepang merupakan pasar potensial yang menghargai kualitas, desain, dan keberlanjutan. Hal ini membuka peluang untuk penetrasi ke pasar Jepang," jelas Wadubes Maria Renata, melansir keterangan KBRI Tokyo (6/5).

"Sementara itu produk turunan kelapa sawit Indonesia memiliki potensi strategis, tidak hanya sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi global menuju energi berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan agenda Jepang dalam transisi energi dan pengembangan biomassa," lanjutnya.

Lebih jauh Wadubes Maria Renata mengatakan, "Produk sawit Indonesia dapat berkontribusi dalam penyediaan bahan baku energi yang ramah lingkungan."

"Untuk itu, penting bagi kita untuk terus mendorong praktik keberlanjutan, transparansi, dan sertifikasi sesuai standar keberterimaan di pasar Jepang," tandasnya.

Selain membahas peluang perdagangan, forum IJMP yang digelar di Nagoya juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia tenaga kerja Indonesia di Jepang.

Jumlah pekerja Indonesia di Jepang melalui skema Specified Skilled Worker (SSW) tercatat sebanyak 86.955 orang dan peserta program pemagangan (Technical Intern Training Program) sebanyak 124.967 orang. Secara keseluruhan mencapai 211.922 orang atau sekitar 79,65 persen dari total warga negara Indonesia di Jepang yang berjumlah 266.069 orang per Desember 2025.

Prefektur Aichi menjadi ‘kantong’ WNI terbesar di Jepang, tercatat sebanyak 21.153 orang per Desember 2025, kata KBRI Tokyo.

IJMP 2026 yang digelar pada 1 Mei lalu antara lain dihadiri Konsul Kehormatan Republik Indonesia di Nagoya, Hideo Sugimoto; Director Investment & Exchange Division, Nagoya, Kobayashi Shunsuke; Chairperson Solidaridad Japan Sato Hiroshi; Chairperson Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Delima Hasri Azahari; Director Tokai Office IM Japan Iwada Shinji; Vice President Aichi Japan Indonesia Friendship & Exchange Association (NPO) Sato Matasada; dan Director ITPC Osaka Didit Akhdiat Suryo.

Turut hadir dalam forum ini para petani dan pelaku UMKM binaan dari Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah yang mengolah hasil limbah produksi kelapa sawit antara lain sabut buah, batang kelapa dan sisa produksi sawit lainnya menjadi produk unggulan bernilai tambah.

Program pembinaan UMKM ini dilakukan bersama GPPI dan Solidaridad untuk pemberdayaan dan meningkatkan ekonomi warga yang tinggal disekitar perkebunan sawit.