Bagikan:

JAKARTA - Indonesia meminta semua pihak menahan diri dan menghormati gencatan senjata, seiring dengan serangan yang menargetkan fasilitas energi Uni Emirat Arab (UEA), mengingatkan hal tersebut dapat mengganggu rantai pasok dan keamanan energi global.

Otoritas UEA mengumumkan adanya serangan yang menargetkan fasilitas kilang minyak negara itu dan menyalahkan Iran. Belakangan, Tehran menepis tuduhan tersebut.

Dalam unggahan di media sosial X Kementerian Luar Negeri RI menuliskan keprihatinan Indonesia mengenai serangan rudal dan drone terhadap UEA.

"Serangan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan, melanggar kesepakatan gencatan senjata, dan mengganggu rantai pasok dan keamanan energi global, yang dampaknya dapat meluas hingga ke negara-negara di luar kawasan," cuit Kemlu RI seperti dikutip, Rabu (6/5).

"Indonesia mendesak seluruh pihak untuk menahan diri, menghormati kesepakatan gencatan senjata secara penuh, dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk perlindungan terhadap infrastruktur sipil," lanjut Kemlu RI.

Sebelumnya, otoritas UEA mengatakan Iran meluncurkan drone 15 rudal, mayoritas Balistik, pada Hari Senin. Insiden pertama sejak pengumuman gencatan senjata di Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel tersebut dilaporkan menyebabkan kebakaran di Fujairah

Dikutip dari Al Jazeera, tempat di mana kilang minyak utama berada itu sangat penting lantaran mengelola sekitar 1,7 juta barel minnyak per hari atau setengah dari kapasitas ekspor UEA.

Kementerian Pertahanan UEA dalam unggahan di X mengatakan sistem pertahanan udara negara itu menghadapi serangan rudal dan drone yang datang dari Iran dengan rincian, 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah dan empat drone, dikutip dari CNBC.

Pada Hari Selasa, Kementerian Pertahanan UEA kembali mengatakan sistem pertahanan udara negara itu tengah menghadapi serangan rudal jelajah, rudal balistik dan drone yang diluncurkan oleh Iran, seperti dilansir dari Anadolu.

Belakangan, angkatan bersenjata Iran membantah telah melakukan serangan rudal atau drone terhadap UEA dalam beberapa hari terakhir, lapor media Pemerintah Iran, IRIB, pada Hari Selasa.

IRIB, mengutip pernyataan juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, mengatakan tidak ada operasi semacam itu yang dilakukan, dan menambahkan tindakan apa pun akan "diumumkan secara jelas dan resmi."

Juru bicara tersebut juga menolak tuduhan dari Kementerian Pertahanan UEA sebagai "tidak berdasar."

Ia memperingatkan, jika ada serangan terhadap Iran yang berasal dari wilayah UEA, Tehran akan merespons dengan pembalasan yang "tegas dan menimbulkan penyesalan."

Ia juga menuduh UEA mengizinkan pasukan AS dan Israel beroperasi dari wilayahnya, mendesak otoritas Emirat untuk tidak menjadi basis bagi apa yang ia sebut sebagai kekuatan yang bermusuhan.

Diketahui, konflik terbaru pecah di Timur Tengah seiring serangan Israel dan AS terhadap Iran pada 28 Februari yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 3.300 orang, termasuk mendiang Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior Tehran.

Negeri Para Mullah kemudian membalas dengan melakukan serangan ke wilayah Israel dan menyasar fasilitas terkait AS yang berada di negara-negara tetangga di kawasan.

Kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang ditengah Pakistan berhasil dicapai pada 8 April. Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu.

Konflik terbaru menyebabkan Iran memperketat kontrol di Selat Hormuz. Pada 13 April, AS mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal dari dan ke pelabuhan Iran.

"Indonesia siap mendukung berbagai upaya de-eskalasi dan mengedepankan dialog untuk mendorong terwujudnya perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan," tulis Kemlu RI.

"Seluruh WNI juga dihimbau untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta senantiasa mengikuti arahan Pemerintah setempat serta Perwakilan RI di Perserikatan Emirat Arab," pungkas kementerian.