JAKARTA - Rabi radikal Israel, Dov Lior, mengatakan "tidak ada warga sipil tak berdosa" di Gaza, mengulangi pendirian garis kerasnya tentang perang genosida Tel Aviv dalam pernyataan yang dibuat selama wawancara.
Lior, tokoh agama Yahudi yang terkait dengan kalangan sayap kanan, berpendapat di masa perang, status sipil tidak mengecualikan individu dari dianggap sebagai bagian dari konflik yang lebih luas.
"Dalam perang, tidak ada warga sipil tak berdosa. Konsep itu adalah ciptaan kaum Kiri. Dalam Perang Dunia Kedua, bukankah Pasukan Sekutu membom penduduk sipil?" katanya kepada Israel National News, menanggapi pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan militer Israel untuk menghindari pembunuhan warga sipil Arab yang tak berdosa, dilansir dari Daily Sabah (5/5).
Lebih lanjut Lior juga menolak gagasan bahwa Israel harus mempertimbangkan opini internasional atau mengadopsi batasan moral yang lebih tinggi dalam peperangan.
Ia juga mengkritik lembaga-lembaga global, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa, menuduh mereka secara konsisten menentang Israel dan mempertanyakan mengapa pandangan seperti itu harus memengaruhi keputusan militer.
Lior mengklaim permusuhan historis terhadap Yahudi membenarkan sikap radikal.
Ia berpendapat upaya untuk mendapatkan penerimaan dari negara lain telah gagal dan memperingatkan, ketergantungan pada persetujuan internasional dapat melemahkan posisi Israel.
Lior selanjutnya membela kelanjutan perang meskipun ada potensi korban jiwa, dengan mengatakan meskipun menyelamatkan nyawa biasanya menjadi prioritas dalam hukum agama, kondisi perang "membutuhkan pendekatan yang berbeda."
Sebelumnya, Lior mengatakan penghancuran penghancuran skala besar di daerah seperti Gaza dapat dibenarkan dan respons militer tidak boleh dibatasi pada individu tertentu yang secara langsung terlibat dalam serangan.
Ia juga mendukung gagasan bahwa warga Palestina yang tinggal di daerah pendudukan harus direlokasi, dengan membingkai langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari strategi yang lebih luas yang terkait dengan klaim teritorial dan keamanan.
Ia juga menarik perhatian di masa lalu karena mendukung interpretasi agama yang mengizinkan penggunaan kekuatan di luar batas medan perang konvensional, termasuk pandangan yang telah banyak diperdebatkan dalam masyarakat Israel.
BACA JUGA:
Terpisah, sumber-sumber medis di Jalur Gaza mengumumkan pada Hari Selasa, jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 72.615 orang, sementara 172.468 lainnya terluka sejak dimulainya serangan pada 7 Oktober 2023, dikutip dari WAFA.
Sumber yang sama mengungkapkan, jumlah total korban tewas sejak gencatan senjata pada 11 Oktober telah meningkat menjadi 834 orang, dan jumlah total korban luka menjadi 2.365 orang, sementara 768 jenazah telah ditemukan dari bawah reruntuhan.
Ditambahkan, sejumlah korban masih berada di bawah reruntuhan dan di jalanan, karena tim ambulans dan penyelamat belum dapat menjangkau mereka hingga saat ini.