JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan pada Hari Selasa, perdamaian antara Israel dan Lebanon dapat dicapai tetapi kelompok militan Lebanon, Hizbullah, adalah masalahnya.
"Secara umum, saya pikir kesepakatan damai antara Lebanon dan Israel sangat mungkin tercapai, dan seharusnya demikian," kata Menlu Rubio kepada wartawan di Gedung Putih, melansir Al Arabiya dari Reuters (6/5).
"Masalah dengan Israel dan Lebanon bukanlah Israel atau Lebanon, melainkan Hizbullah," tambahnya.
Pemerintah Lebanon menginginkan kesepakatan permanen dengan sekutu AS, Israel, yang akan mengakhiri siklus berulang invasi dan serangan Israel, meskipun tidak sampai mengatakan mereka menginginkan perjanjian damai.
Sedangkan Israel mengatakan kesepakatan apa pun harus secara permanen melucuti senjata Hizbullah yang didukung Iran.
"Apa yang harus terjadi di Lebanon, apa yang ingin dilihat semua orang, adalah adanya pemerintah Lebanon yang mampu mengejar Hizbullah dan membubarkan Hizbullah," jelas Menlu Rubio.
Diketahui, Israel meningkatkan serangan udara terhadap Lebanon setelah Hizbullah menembakkan rudal ke Israel pada 2 Maret, tiga hari setelah dimulainya perang AS-Israel melawan Iran. Setelah itu, Israel memperluas invasi darat ke Lebanon selatan.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan lebih dari 2.600 orang tewas dalam serangan Israel sejak 2 Maret, dengan lebih dari satu juta orang mengungsi. Israel mengatakan 17 tentaranya tewas di Lebanon selatan sementara dua warga sipil tewas akibat serangan Hizbullah.
BACA JUGA:
Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata yang rapuh pada pertengahan April yang kemudian diperpanjang hingga Mei.
Namun, Israel tetap menduduki Lebanon selatan dan menghancurkan desa-desa di sana, sementara Hizbullah terus menyerang pasukan Israel.
Di sisi lain, Tehran mengatakan kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang Iran yang lebih luas juga harus menghentikan serangan Israel di Lebanon. Washington mengatakan kedua masalah tersebut terpisah.