Bagikan:

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat struktur penduduk Jakarta makin didominasi generasi muda. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan generasi milenial dan Gen Z menjadi kelompok terbesar dan menguasai hampir separuh populasi ibu kota.

Jumlah penduduk Jakarta tercatat mencapai 10,72 juta jiwa. Angka ini terus bertambah dibanding dua sensus sebelumnya, meski laju pertumbuhan mulai melambat.

"Jumlah penduduk Jakarta berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS 2025) sebanyak 10.724,33 ribu jiwa," kata Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto dalam rilisnya, Rabu, 6 Mei.

Pertumbuhan penduduk Jakarta dalam lima tahun terakhir tercatat lebih rendah dibanding dekade sebelumnya. Laju pertumbuhan penduduk hanya 0,32 persen pada periode 2020–2025, turun dari 0,92 persen pada 2010–2020.

Berdasarkan tahun kelahiran, penduduk dikelompokkan ke dalam Generasi Pre-Boomer (lahir sebelum 1945), Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964), Generasi X (lahir tahun 1965-1980) Milenial (lahir tahun 1981-1996), Generasi Z (lahir tahun 1997-2012) dan Post Generasi Z (lahir tahun 2013 dan seterusnya).

BPS mencatat komposisi generasi menunjukkan dominasi kelompok usia produktif. Generasi milenial menjadi yang terbesar dengan porsi 24,82 persen, disusul Generasi Z sebesar 24,12 persen.

"Kedua generasi ini secara bersama-sama mencakup hampir separuh populasi di Jakarta, yang menunjukkan kuatnya

dominasi penduduk usia produktif dalam struktur saat ini," ucap Kadarmanto.

Sementara itu, empat generasi lainnya berkontribusi sebesar 51,06 persen, yang terdiri dari Generasi X sebesar 21,85 persen, Post Generasi Z sebesar 17,78 persen, Generasi Baby Boomer sebesar 10,72 persen, dan Pre-Boomer sebesar 0,71 persen.

Jika dilihat dari struktur umur, penduduk usia produktif (15–64 tahun) masih mendominasi dengan porsi 71,26 persen. Namun, proporsi ini mulai menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Sebaliknya, tren penuaan penduduk mulai terlihat. Jumlah penduduk usia lanjut terus meningkat dalam satu dekade terakhir.

"Hal ini mengindikasikan bahwa struktur umur penduduk Jakarta secara bertahap bergerak menuju proses penuaan penduduk (ageing population)," ungkap Kadarmanto.

Meski demikian, Jakarta masih berada dalam fase bonus demografi. Hal ini terlihat dari rasio ketergantungan yang masih berada di bawah ambang 50.

"Hasil SUPAS 2025 menunjukkan rasio ketergantungan di Jakarta sebesar 40,34," tulis BPS.

Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 40 penduduk usia nonproduktif. Angka ini memang meningkat dibanding sensus sebelumnya, tetapi belum menggeser posisi Jakarta dari fase bonus demografi.

Berdasarkan hasil SUPAS 2025, jumlah penduduk laki-laki di Jakarta sebanyak 5.371,39 ribu jiwa atau 50,09 persen dari seluruh penduduk, sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 5.352,94 ribu jiwa atau 49,91 persen dari seluruh penduduk.

"Berdasarkan komposisi jenis kelamin tersebut, rasio jenis kelamin di Jakarta tercatat sebesar 100, yang berarti terdapat sekitar 100 laki-laki untuk setiap 100 perempuan di Jakarta," urainya.