Bagikan:

JAKARTA - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas lebih memilih mengomentari perang AS-Israel terhadap Iran dibanding perpanjangan gencatan senjata Israel-Lebanon selama tiga pekan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.

Berbicara pada pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Siprus, Kallas mengklaim ancaman dari Iran "lebih berbahaya" jika para ahli nuklir tidak dilibatkan dalam perundingan perdamaian AS-Iran.

"Jika pembicaraan hanya tentang (program) nuklir dan tidak ada ahli nuklir di meja perundingan, maka kita akan berakhir dengan kesepakatan yang lebih lemah daripada JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama)," kata Kallas dikutip dari BBC, Jumat 24 April.

JCPOA merupakan kesepakatan nuklir Iran yang disepakati pada tahun 2015 saat AS dipimpin Barack Obama yang kemudian dihapus ketika Trump jadi Presiden AS periode pertama.

Berdasarkan kesepakatan JCPOA, Iran setuju untuk membatasi aktivitas nuklir sensitifnya dan mengizinkan inspektur internasional masuk ke negara itu sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi.

"Dan (jika) masalah-masalah di kawasan ini, program rudal, dukungan mereka terhadap kelompok proksi, serta aktivitas hibrida dan siber di Eropa tidak ditangani, kita akan berakhir dengan Iran yang lebih berbahaya," kata Kallas.