Bagikan:

JAKARTA - Amerika Serikat menjadi lebih aman melalui teman dan sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) – situasi yang tidak menguntungkan negara-negara seperti Rusia dan China, kata mantan kepala aliansi Jens Stoltenberg.

Berbicara dalam wawancara di KTT Ekonomi Dunia Semafor di Washington, Amerika Serikat, Stoltenberg menekankan pentingnya NATO bagi AS dan Eropa.

"Amerika Serikat itu besar, mencakup 25 persen ekonomi global. Tetapi bersama dengan sekutu NATO, kita mencakup 50 persen ekonomi global dan 50 persen kekuatan militer dunia," katanya kepada hadirin di Washington, melansir The National (17/4).

"Jadi, memiliki teman dan sekutu membuat Amerika Serikat lebih aman, sesuatu yang sama sekali tidak dimiliki Rusia dan China," lanjutnya.

Lebih jauh Stoltenberg, yang sekarang menjabat sebagai Menteri Keuangan Norwegia, juga menunjuk pada peran negaranya dalam melacak aset nuklir Rusia.

"Kami melacak kapal selam dan membantu pertahanan dalam negeri," katanya.

"Fakta bahwa kita memiliki kehadiran Norwegia yang begitu dekat dengan kemampuan nuklir tersebut, itu membuat kita lebih aman. Jadi NATO baik untuk Amerika Serikat," tandasnya.

Stoltenberg memperkirakan aliansi tersebut akan tetap bertahan meskipun ada "masalah dan tantangan berat" yang ditimbulkan oleh perang dengan Iran.

Ia menekankan, kritik Washington tidak ditujukan kepada NATO, tetapi pada bagaimana beban tersebut dibagi.

"Kita telah mampu mengatasi perbedaan pendapat sebelumnya dan saya sangat berharap dan percaya bahwa kita dapat melakukannya lagi," jelas Stoltenberg.

"Kritik utama dari Amerika Serikat dan dari Presiden (Donald) Trump bukanlah terhadap NATO. Kritik tersebut ditujukan kepada sekutu NATO yang tidak cukup berinvestasi di NATO. Dan itu telah berubah. Sekutu Eropa benar-benar telah meningkatkan peran mereka," tambahnya.

Mantan Sekjen NATO tersebut menepis klaim aliansi belum berbuat cukup dan merujuk pada pengeluaran pertahanan besar di Polandia, negara-negara Baltik, dan Norwegia.

"Kita menghabiskan sebagian besar PDB untuk pertahanan daripada Amerika Serikat. Jadi, keadaan telah berubah dan terus bergerak ke arah yang benar," katanya.

Diketahui, Presiden Trump baru-baru ini memberikan tekanan pada sekutu NATO, menuntut mereka untuk mengerahkan kapal perang guna membantu membuka kembali Selat Hormuz.

"Tidak ada cara untuk menyembunyikan hal itu, ada beberapa perbedaan pendapat serius antara sekutu dan khususnya antara beberapa sekutu Eropa dan Amerika Serikat," jelasnya.

Pekan lalu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memberi pengarahan kepada negara-negara anggota pekan lalu, Presiden Trump "menginginkan komitmen konkret dalam beberapa hari ke depan untuk membantu mengamankan" selat tersebut.

Stoltenberg mengakui adanya gesekan dalam aliansi tersebut, tetapi mengatakan konsultasi adalah kuncinya.

"Jika Anda ingin NATO berkontribusi, setidaknya Anda harus duduk bersama sekutu NATO, seperti yang Anda lakukan setelah 9/11," katanya.

"Anda tidak dapat mengharapkan kami untuk berada di sana tanpa konsultasi apa pun, tanpa diskusi apa pun di NATO sebelum Anda mengambil keputusan untuk melancarkan serangan," kata Stoltenberg.

Terlepas dari gesekan tersebut, Stoltenberg mengatakan aliansi tersebut telah bertahan melewati krisis-krisis sebelumnya, menekankan daya pencegahan intinya tetap berlaku.

"Tujuan NATO adalah untuk mencegah perang dengan mengirimkan pesan yang jelas kepada setiap calon musuh bahwa serangan terhadap satu negara akan memicu respons dari seluruh negara," jelasnya.

"Dan selama hal itu kredibel, tidak akan ada serangan," tandas Stoltenberg.