Bagikan:

JAKARTA - Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol memperingatkan seriusnya dampak kisis energi bahan bakar dan gas akibat Selat Hormuz jadi zona perang AS-Israel terhadap Iran.

"Lebih serius daripada gabungan krisis tahun 1973, 1979, dan 2002," kata Birol kepada surat kabar Prancis, Le Figaro, dikutip dari Reuters, Selasa 7 April.

Sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, kapal-kapal pembawa sumber energi dunia tertahan di sekitar Selat Hormuz.

Jalur pasokan 20 persen bahan bakar dan gas dunia itu, saat ini mulai dibuka secara terbatas dengan pantauan dari Iran selaku negara yang bertetangga langsung dengan Selat Hormuz.

Birol kemudian menekankan, dunia "belum pernah mengalami gangguan pasokan energi sebesar ini."

Belum lama ini, tiga kapal pengangkut minyak mentah milik perusahaan Turki berhasil melintasi Selat Hormuz.

Bersamaan dengan itu, kapal tanker berbendera India milik anak perusahaan Jepang juga telah melintasi jalur pasokan 20 persen konsumsi minyak mentah global dunia pada Senin 6 April.