Bagikan:

JAKARTA – Bayangkan sebuah Sabtu di mana aspal di 50 negara bagian Amerika Serikat tidak lagi dipenuhi deru mesin, melainkan langkah kaki jutaan manusia. Dari dinginnya Minnesota hingga monumen bersejarah di Washington DC, sebuah pesan tunggal bergema: "No Kings"—Tidak Ada Raja.

Ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ini adalah aksi nasional ketiga, sebuah titik kulminasi dari keresahan yang telah lama memendam di bawah kulit masyarakat Amerika. Melibatkan ormas seperti Indivisible hingga serikat pekerja akar rumput, aksi ini tercatat sebagai salah satu mobilisasi paling terkoordinasi dalam sejarah modern paman Sam.

Dilema di Meja Makan

Di balik angka-angka statistik dan laporan media, ada cerita tentang piring-piring yang mulai kosong dan tagihan yang kian mencekik. Bagi banyak warga, penolakan terhadap pemerintahan Trump bukan lagi soal politik partisan, melainkan soal kelangsungan hidup.

Konflik dengan Iran yang merenggut nyawa 13 personel AS menjadi luka terbuka. Ditambah lagi dengan tarif impor yang membuat harga barang kebutuhan sehari-hari melambung, serta antrean bandara yang mengular akibat kebuntuan anggaran. Bahkan, beberapa pendukung garis keras sang presiden mulai menyuarakan rasa frustrasi yang sama.

Tangisan dari Lincoln Memorial

Di Washington DC, di bawah bayang-bayang Lincoln Memorial yang megah, pemandangan menyentuh tersaji. Belasan ibu dari Palestina berdiri tegak, mengibarkan bendera raksasa sebagai pengingat akan luka yang melintasi samudera.

"Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi kekerasan," ujar Hazami Barmada (43), salah satu pengunjuk rasa, dengan nada bicara yang bergetar namun tegas.

Baginya, ini adalah paradoks yang menyakitkan. Di saat banyak warga Amerika kesulitan membayar sewa rumah, membeli susu untuk anak-anak, atau mengakses layanan kesehatan, anggaran negara justru mengalir ke medan perang. "Harga-harga naik ketika kita terjebak dalam perang orang lain," keluhnya.

Antara Damai dan Ketegangan

Aksi ini ibarat berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi, koalisi No Kings berjuang keras menjaga kedamaian dengan melatih para pemimpin aksi dalam teknik deeskalasi dan melarang keras penggunaan senjata. Mereka membawa trauma masa lalu—ingatan pahit saat seorang pengunjuk rasa tewas di Salt Lake City pada aksi pertama Juni 2025 silam.

Namun, di sisi lain, ketegangan tetap terasa. Di West Palm Beach, Florida, sekitar 50 pendukung Trump dengan topi khas "Proud Boys" berdiri berhadapan dengan massa No Kings. Dua kutub pemikiran ini bertemu di satu trotoar, dipisahkan oleh keyakinan yang berbeda tentang masa depan negara mereka.

Lautan Manusia di Minnesota

Minnesota menjadi saksi bisu ledakan massa terbesar. Ezra Levin, pendiri Indivisible, menyebutnya sebagai protes terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut. Ribuan orang berkumpul di depan Gedung Capitol, membentuk lautan manusia yang menolak diam.

Sabtu itu, Amerika tidak hanya sedang berdemonstrasi. Mereka sedang bercermin. Apakah mereka masih sebuah republik yang menjunjung kesetaraan, ataukah mereka sedang perlahan memberikan takhta kepada seseorang yang mereka anggap bertindak layaknya raja?

Jutaan orang telah memberikan jawaban mereka di jalanan. Kini, bola panas itu kembali ke meja kerja di Gedung Putih.