Bagikan:

JAKARTA - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkap komitmen Presiden RI Prabowo Subianto untuk menaikkan dana riset nasional hingga 50 persen dari anggaran saat ini, yakni sekitar Rp8 triliun.

Hal itu dikatakan Arif Satria usai pertemuan Presiden dengan 1.200 guru besar, rektor, dan dekan

di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 15 Januari.

Menurut Arif, kenaikan anggaran ini sangat krusial untuk mengejar ketertinggalan riset Indonesia sekaligus menopang target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

“Yang sangat menggembirakan hari ini, Presiden konsen pada peningkatan dana penelitian,” ujar Arif Satria.

Arif menjelaskan, dana riset Indonesia saat ini baru setara 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini, kata dia, jauh tertinggal dibanding negara lain.

"Karena itu rencana kenaikan anggaran sekitar 50 persen disambut positif oleh kalangan periset dan akademisi," katanya.

Arif menuturkan, tambahan dana riset ini akan diarahkan untuk mendukung program strategis nasional, mulai dari mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan kemiskinan, hingga menciptakan lapangan kerja. Selain itu, kata Arif, BRIN juga sedang memperkuat riset agar mampu menopang 18 proyek strategis hilirisasi.

“Program hilirisasi perlu kekuatan riset. BRIN sedang mendorong penguatan riset untuk mendukung pertumbuhan 8 persen,” tuturnya.

BRIN, tambahnya, juga tengah menyiapkan future technology forecast, yakni pemetaan teknologi masa depan hingga 2030, 2040, dan 2050. Arif mengungkapkan, langkah ini dilakukan agar industrialisasi Indonesia tidak terjebak pada teknologi yang sudah usang saat investasi direalisasikan.

"BRIN siap menjadi mitra strategis Danantara dan sektor swasta dalam memproyeksikan arah industrialisasi dan teknologi masa depan, termasuk melalui riset bersama," tegasnya.

Terkait fokus penggunaan anggaran, Arif menyebut Presiden Prabowo memberi penekanan kuat pada ketahanan pangan, mulai dari beras, jagung, bawang putih, kedelai, hingga protein hewani seperti susu dan sapi. Disisi lain, kata dia, riset ketahanan dan transisi energi juga menjadi prioritas untuk memperkuat energi baru dan terbarukan.

"Fokus berikutnya adalah industri strategis berteknologi tinggi dan padat karya, seperti tekstil, sepatu, elektronik, hingga semikonduktor. BRIN juga mendorong percepatan riset industri dirgantara, termasuk pengembangan pesawat N219 bersama PT Dirgantara Indonesia, yang ditargetkan rampung risetnya pada akhir 2026 atau awal 2027," pungkas Arif.