Bagikan:

JAKARTA - Rusia menilai suara yang mendukung resolusi mengenai pemulangan anak-anak Ukraina di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan dukungan terhadap kebohongan.

Majelis Umum PBB pada Hari Rabu mengadopsi Resolusi A/ES-11/L.16/Rev.1 dalam pemungutan suara dengan hasil 91 suara mendukung, 12 menentang dan 57 suara abstain, dikutip dari situs UN News (4/12).

Resolusi yang diusulkan oleh Ukraina, Denmark, Inggris, Jerman hingga Kanada tersebut menuntut Federasi Rusia memastikan pemulangan segera, aman dan tanpa syarat bagi semua anak Ukraina yang telah dipindahkan atau dideportasi secara paksa.

Majelis juga mendesak Moskow untuk segera menghentikan kegiatan-kegiatan tersebut, dan mengakhiri praktik-praktik pemisahan keluarga dan "perubahan status pribadi (anak-anak)" melalui kewarganegaraan, adopsi, penempatan asuh, atau indoktrinasi.

Indonesia berada di antara negara yang memilih abstain, antara lain bersama dengan Brasil, China, Mesir, India, Kuwait, Malaysia, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Thailand, hingga Uni Emirat Arab.

Sedangkan Rusia menyatakan penolakannya bersama sejumlah negara, antara lain Iran, Kuba, Belarus hingga Korea Utara.

"Setiap suara untuk resolusi ini merupakan dukungan untuk kebohongan, perang, dan konfrontasi. Setiap suara yang menentang merupakan suara untuk perdamaian," ujar Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Maria Zabolotskaya, kepada Majelis Umum menjelang pemungutan suara, melansir Reuters.

Diketahui, Resolusi Majelis Umum PBB tidak mengikat, tetapi memiliki bobot sebagai cerminan pandangan global.

Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022. Ukraina menuduh Rusia menculik puluhan ribu anak-anaknya ke Rusia atau wilayah yang diduduki Rusia tanpa persetujuan keluarga atau wali.

Sebelumnya, Moskow sendiri mengatakan telah melindungi anak-anak yang rentan dari zona perang.