Bagikan:

JAKARTA - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Hari Rabu meyakini operasi militer Israel di Jalur Gaza salah secara fundamental, memiliki alasan kuat untuk meyakini kejahatan perang telah dilakukan.

"Saya pikir ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam cara operasi ini dilakukan dengan pengabaian total terkait kematian warga sipil dan kehancuran Gaza," kata Sekjen Guterres dalam wawancara di konferensi Reuters NEXT di New York, melansir Reuters (4/12).

"Tujuannya adalah menghancurkan Hamas. Gaza telah dihancurkan, tetapi Hamas belum dihancurkan. Jadi ada sesuatu yang salah secara fundamental dengan cara ini dilakukan," lanjutnya kepada Pemimpin Redaksi Reuters Alessandra Galloni.

Hingga kemarin, korban tewas akibat agresi Israel di wilayah kantong Palestina itu telah mencapai 70.117 orang, mayoritas wanita dan anak-anak, sementara korban luka-luka mencapai 170.999 orang sejak Oktober 2023, lapor media Palestina WAFA.

Perang tersebut dipicu oleh serangan kelompok militan Palestina yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang, menurut Israel.

Ketika ditanya apakah kejahatan perang telah terjadi, Sekjen Guterres berkata: "Ada alasan kuat untuk meyakini bahwa kemungkinan itu mungkin terjadi."

Menanggapi hal tersebut, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan kepada Reuters: "Satu-satunya kejahatan yang dilakukan adalah kekejian moral bahwa lebih dari dua tahun setelah pembantaian mengerikan 7 Oktober, Sekretaris Jenderal PBB masih belum mengunjungi Israel dan malah menggunakan platformnya yang tinggi untuk mengecam dan mengutuk Israel dan rakyat Israel di setiap kesempatan."

Namun, pada Oktober tahun lalu, Menteri Luar Negeri Israel saat itu, Israel Katz - yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan - mengatakan ia telah melarang Sekjen Guterres memasuki negara itu.

Gencatan senjata yang rapuh telah diberlakukan sejak 10 Oktober, tetapi Israel terus menyerang Gaza dan melakukan pembongkaran terhadap apa yang disebutnya sebagai infrastruktur Hamas. Hamas dan Israel saling menyalahkan atas pelanggaran perjanjian yang didukung Amerika Serikat.

Sekjen Guterres memuji Amerika Serikat - sekutu Israel - atas perannya dalam meningkatkan akses bantuan di Gaza, tempat pemantau kelaparan global mengatakan pada bulan Agustus bahwa kelaparan telah melanda.

"Ada kerja sama yang sangat baik dalam bantuan kemanusiaan antara PBB dan AS, dan saya berharap ini akan dipertahankan dan dikembangkan," ujarnya.

PBB telah lama mengeluhkan hambatan dalam pengiriman dan pendistribusian bantuan di Gaza, menyalahkan Israel dan pelanggaran hukum atas hambatan tersebut. Israel telah mengkritik operasi yang dipimpin PBB dan menuduh Hamas mencuri bantuan, yang dibantah oleh para militan.