JAKARTA - Rusia pada Hari Kamis kembali menegaskan, keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bagi Ukraina merupakan ancaman dan tidak dapat diterima.
Rusia diketahui telah berulangkali menentang perluasaan keanggotaan NATO dan menentang bergabungnya Ukraina dalam aliansi militer yang dipimpin Amerika Serikat tersebut.
"Bagi kami, ancamannya masih perluasan NATO," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, kepada wartawan di Moskow, melansir TASS 28 November.
"Keinginan NATO untuk menarik Ukraina ke dalam orbitnya tetap menjadi ancaman bagi kami," lanjutnya.
"Keanggotaan negara ini dalam aliansi militer agresif yang telah menyatakan Rusia sebagai targetnya, menyebutnya sebagai ancaman keamanan di semua lingkungan operasional, tidak dapat diterima oleh kami," urai Zakharova.
Salah satu syarat utama Presiden Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina adalah tuntutan agar para pemimpin Barat berjanji bahwa Ukraina tidak akan menjadi anggota NATO, Reuters melaporkan.
Pada KTT Bucharest 2008, para pemimpin NATO sepakat Ukraina dan Georgia suatu hari nanti akan menjadi anggota. Ukraina pada tahun 2019 mengamandemen konstitusinya yang berkomitmen pada jalur keanggotaan penuh NATO dan Uni Eropa.
Belakangan, Presiden Donald Trump mengatakan, dukungan AS sebelumnya terhadap upaya Ukraina untuk menjadi anggota NATO merupakan penyebab perang, dan telah mengindikasikan bahwa Ukraina tidak akan mendapatkan keanggotaan.
BACA JUGA:
Diketahui, dalam teks rencana perdamaian 28 poin yang diusulkan AS untuk Ukraina, poin ke-7 menyatakan: "Ukraina setuju untuk mengabadikan dalam konstitusinya bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO, dan NATO setuju untuk memasukkan dalam statutanya ketentuan bahwa Ukraina tidak akan diterima di masa mendatang."