JAKARTA- Otoritas Italia meluncurkan penyelidikan terhadap "turis perang" yang membayar hingga 100 ribu euro dalam krisis di Bosnia dan Herzegovina tahun 1990-an.
Jaksa Italia membuka penyelidikan atas klaim beberapa warga negara Italia pergi ke Bosnia selama perang 1992-1995 untuk bergabung dengan unit penembak jitu Serbia dan menembaki warga sipil sebagai "hiburan," lapor media lokal.
Penyelidikan yang diluncurkan oleh Kejaksaan Umum Milan berfokus pada individu-individu yang digambarkan di media Italia sebagai "penembak jitu akhir pekan" - ekstremis sayap kanan - yang diduga membayar setara dengan 80.000 euro (Rp1.553.528.000) hingga 100.000 euro (Rp1.941.910.000) untuk ikut serta dalam perjalanan menembak selama Pengepungan Sarajevo, melansir Anadolu 14 November.
Menurut laporan di La Repubblica, para pria tersebut bukanlah tentara melainkan "turis perang sayap kanan radikal."
Mereka dikabarkan berangkat dari Kota Trieste di timur laut Italia pada Jumat malam, menghabiskan akhir pekan di Sarajevo bersama pasukan Serbia sebelum kembali ke Italia tak lama kemudian.
Jaksa Alessandro Gobbis telah membuka kasus ini dengan tuduhan pembunuhan berencana yang diperparah, yang dilakukan dengan kekejaman dan niat jahat.
Penyelidikan saat ini menargetkan tersangka yang belum teridentifikasi.
Sementara itu, kantor berita Italia ANSA melaporkan pengaduan yang memicu penyelidikan diajukan oleh jurnalis dan penulis Ezio Gavazzeni.
Ia mengutip informasi dari pertukaran email pada November 2024 dengan seorang pejabat dari Dinas Keamanan Militer Bosnia, yang telah menginterogasi seorang relawan Serbia yang ditangkap.
Gavazzeni mengatakan setidaknya lima warga Italia dari Milan, Turin dan Trieste diduga terlibat, salah satunya dilaporkan sebagai pemilik klinik kosmetik.
BACA JUGA:
Klaim tersebut berpusat pada peristiwa selama Pengepungan Sarajevo selama 3,5 tahun, di mana pasukan Serbia mengepung dan membombardir ibu kota Bosnia sejak April 1992.
Lebih dari 11.500 warga sipil tewas, termasuk 1.601 anak-anak, dan warisan budaya serta infrastruktur kota mengalami kerusakan parah.
Pada tahun 2021, gambar yang baru muncul menunjukkan penembak jitu Serbia menargetkan warga sipil di Sarajevo selama perang 1992-1995 di Bosnia dan Herzegovina, membangkitkan kenangan masa lalu yang menyakitkan bagi warga Bosnia.