SURABAYA - Siapa yang akan memimpin Gerindra Jawa Timur ke depan mulai memantik perhatian publik. Bursa Ketua DPD Gerindra Jawa Timur kini diwarnai sejumlah nama yang menguat dalam pembahasan internal partai. Sumber di internal DPP Gerindra menyebut Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) dan dr. Muhammad Haris (Gus Haris) berada di posisi teratas. Keduanya merupakan figur pesantren yang dianggap mampu mengamankan basis politik Jatim.
Gus Irfan adalah Menteri Haji dan Umrah RI serta cucu pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari. Ia memiliki legitimasi moral yang kuat di lingkungan pesantren. Sementara itu, Gus Haris adalah Bupati Probolinggo dan cucu pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo serta Pesantren Darul Ulum Jombang. Jejaring pesantrennya luas, menjangkau Tapal Kuda hingga Madura.
Namun bukan hanya dua nama itu. Muhammad Fawait (Gus Fawait), Bupati Jember, juga masuk radar Gerindra. Ada pula Ahmad Dhani, anggota DPR RI dari Gerindra yang dikenal luas publik sebagai pentolan band Dewa19, serta Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. Sejumlah purnawirawan militer juga ikut dibahas sebagai calon potensial.
Meski begitu, disebut-sebut, Presiden Prabowo Subianto disebut memiliki preferensi kuat: tokoh pesantren. Alasannya sederhana. Jawa Timur adalah salah satu pusat suara Islam terbesar di Indonesia. Dari lebih 40 juta pemilih Jatim, separuhnya masih menjadikan kiai dan pesantren sebagai rujukan politik. “Gerindra harus punya wajah yang diterima kiai dan santri,” ujar sumber tersebut.
Pandangan itu sejalan dengan analisis Korwil LSI Denny JA Jawa Timur, Imam Fauzi. Ia menilai karakter pesantren yang milenial dan adaptif sangat dibutuhkan Gerindra untuk memperkuat basis di Jatim menjelang Pemilu 2029.
Menurut Imam, Gus Irfan memiliki magnet elektoral kuat sebagai cucu pendiri NU. Namun, ia juga melihat bahwa peta politik Jatim akan jauh lebih solid bila Gus Irfan dan Gus Haris dipasangkan sebagai ketua dan sekretaris.
“Duet Mataraman dan Tapal Kuda–Madura itu sempurna. Keduanya diterima semua kalangan. Paham birokrasi, paham kultur santri, komunikatif, dan siap bergerak,” tegas Imam dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat, 31 Oktober.
Imam menambahkan, pembahasan mengenai duet itu sudah mulai mencuat di berbagai forum organisasi dan jaringan partai di Jatim. Sebagian kader menilai pasangan tersebut sebagai paket ideal bagi Gerindra.
Data survei dari sejumlah lembaga nasional juga menunjukkan, peran kiai dan pesantren masih menjadi penentu utama dalam pembentukan opini dan sikap politik masyarakat Jatim. Karena itu, figur yang memiliki akar kuat di pesantren dipandang bukan sekadar simbol, melainkan kebutuhan strategis.
Hal itu turut diamini pengamat politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo. Menurutnya, keputusan Prabowo mengarahkan figur pesantren untuk Jatim adalah langkah politik taktis.
“Gerindra punya peluang besar memperkuat basis NU di Jawa Timur. Ini momentum yang tepat,” ujarnya.
Cuma memang, keputusan akhir mengenai siapa yang akan ditetapkan sebagai Ketua DPD Gerindra Jawa Timur sepenuhnya berada di tangan Prabowo Subianto.