Bagikan:

YOGYAKARTA - Mochamad Irfan Yusuf atau akrab disapa Gus Irfan kemungkinan besar akan ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Haji dan Umrah. Saat ini, Gus Irfan memimpin Badan Penyelenggara Haji dan Umrah (BP Haji), lembaga yang akan segera bertransformasi menjadi Kementerian Haji dan Umrah.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberikan sinyal kuat bahwa Gus Irfan akan mengisi kursi menteri tersebut. “Kemungkinan seperti itu (Gus Irfan jadi menteri haji dan umrah),” ujarnya.

Meski demikian, dia menegaskan kepastian nama menteri tetap menunggu keputusan Presiden Prabowo.

Setelah peraturan presiden (Perpres) tentang kementerian baru diteken, kepala negara otomatis akan menetapkan sosok yang dipercaya untuk memimpin.

“Kalau sudah diputuskan dan beliau menandatangani (perpres), otomatis sekaligus menunjuk menterinya,” jelas Prasetyo.

Lantas, siapa sebenarnya Mochamad Irfan Yusuf, tokoh yang kini menjadi sorotan publik?

Profil Mochamad Irfan Yusuf

Mochamad Irfan Yusuf lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 24 April 1962. Dia merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari. Latar belakang keluarga besar ulama ini menempatkan Gus Irfan sebagai salah satu penerus tradisi pesantren Tebuireng.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Jombang hingga akhirnya menamatkan sekolah menengah di SMPP Jombang (kini SMAN 2 Jombang) pada 1981. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Brawijaya, Malang, dan meraih gelar sarjana pada 1985.

Tidak berhenti sampai di situ, Gus Irfan melanjutkan pendidikannya di universitas yang sama dan meraih gelar magister pada 2002.

Perjalanan akademiknya berlanjut hingga meraih gelar doktoral di bidang Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 24 Februari 2025. Disertasinya berjudul “Kepemimpinan Transformasional KH. Muhammad Yusuf Hasyim dalam Melestarikan Tradisi Indonesia di Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang.”

Sejak muda, Gus Irfan sudah aktif dalam pengelolaan pendidikan pesantren. Pada 1989-2006, dia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pondok Pesantren Tebuireng. Sejak 1990, dia juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Yayasan Hasyim Asy’ari yang menaungi pesantren tersebut.

Selain fokus di pesantren, Gus Irfan juga mengembangkan peran di bidang ekonomi. Dia menjabat sebagai Komisaris Utama PT BPR Tebuireng selama kurang lebih dua dekade (1996-2016). Dia juga menjadi Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) (2015-2016).

Di bidang pendidikan, Gus Irfan mengasuh Pesantren Al-Farros sejak 2006 pernah menjabat sebgai Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Timur (2014-2017). Dia juga sempat menjadi dosen di Akademi Keperawatan Widyagama Malang (2013-2016).

Selain di bidang pendidikan, Gus Irfan juga terjun ke dunia politik. Dia merupakan kader Partai Gerindra yang dipimpin Presiden Prabowo.

Pada Pilpres 2019, dia dipercaya menjadi Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, sekaligus Ketua Umum Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA), sayap keagamaan Gerindra.

Dalam Pemilu 2024, Gus Irfan maju sebagai calon anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Timur VIII. Dia meraih 77.433 suara dan berhasil melenggang ke Senayan untuk periode 2024-2029. Namun, masa baktinya sebagai legislator berlangsung singkat.

Hanya berselang tiga minggu setelah dilantik pada 1 Oktober 2024, dia ditunjuk Presiden Prabowo sebagai Kepala BP Haji, tepatnya pada 22 Oktober 2024.

Dengan latar belakang pesantren, pengalaman organisasi, dan jejaring kuat di kalangan NU, Gus Irfan dianggap memiliki modal sosial dan spiritual yang penting dalam mengelola penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Penunjukan Gus Irfan diyakini bisa menjembatani kepentingan negara dengan aspirasi umat, terutama karena pengalamannya panjang di dunia pesantren. Dengan latar belakang tersebut, publik berharap kementerian baru ini mampu menghadirkan kebijakan yang lebih transparan dan berorientasi pada pelayanan.