JAKARTA - Rob Jetten mengatakan ingin bekerja untuk rakyat dan negara, saat partainya, Democrats 66 (D66), unggul dalam perhitungan hasil Pemilu Belanda dan dirinya berpotensi menjadi perdana menteri termuda negara itu.
Partai sentris D66 meraih kemenangan besar dalam Pemilu, kemungkinan besar memimpin pembentukan pemerintahan berikutnya, sementara partai yang dipimpin oleh pemimpin sayap kanan Geert Wilders kehilangan dukungan.
Dengan 98 persen suara yang telah dihitung hingga Kamis pagi, D66 dan Partai Kebebasan (PVV) yang dipimpin Wilders diproyeksikan meraih 26 kursi di majelis rendah parlemen yang beranggotakan 150 orang, dikutip dari Reuters 30 Oktober.
Setelah penghitungan suara semalaman, D66 unggul tipis dengan 2.300 suara dari total sekitar 10 juta suara yang diberikan. Penghitungan suara dijadwalkan akan dilanjutkan pada Kamis pagi.
D66 meraih perolehan suara terbesar dan hampir tiga kali lipat, sementara partai Wilders mengalami penurunan tajam dari rekor perolehan suara dalam jajak pendapat terakhir pada tahun 2023.
De positieve krachten hebben gewonnen! Ik wil voor alle Nederlanders aan de slag, want dit is het land van ons allemaal! pic.twitter.com/Chs6T7XMcf
— Rob Jetten (@RobJetten) October 29, 2025
Hasil exit polls dan hitung cepat mengindikasikan kemenangan tipis D66, sementara partai Wilders berada di posisi kedua. Namun, perhitungan suara menunjukkan hasil yang sedikit lebih kuat bagi partai populis anti-Islam tersebut.
Pergeseran hasil pada Kamis dini hari kemungkinan besar tidak akan mengubah komposisi koalisi pemerintahan berikutnya.
Semua partai arus utama telah memutuskan untuk menyingkirkan kemungkinan koalisi dengan Wilders, setelah ia menjatuhkan koalisi terakhir yang dipimpin oleh PVV-nya, sehingga tidak memberinya jalan yang layak menuju mayoritas.
Hasil ini justru tampaknya membuka jalan bagi pemimpin D66, Rob Jetten, untuk membentuk pemerintahan sebagai perdana menteri termuda Belanda.
"Kekuatan positif telah menang! Saya ingin bekerja untuk seluruh rakyat Belanda, karena ini adalah negara kita semua!" cuitnya Jetten di Twitter.
Sorak-sorai dan yel-yel "Ya, kita bisa" menggema di perayaan malam pemilihan D66 saat massa mengibarkan bendera Belanda.
"Kita telah menunjukkan tidak hanya kepada Belanda, tetapi juga kepada dunia bahwa kita bisa mengalahkan gerakan populis dan ekstrem kanan," ujar Jetten kepada massa.
"Jutaan orang Belanda hari ini membalik halaman dan mengucapkan selamat tinggal pada politik negatif, kebencian, dan slogan 'tidak, kita tidak bisa' yang tak berkesudahan."
Popularitas Jetten (38) melonjak bulan lalu, seiring kampanyenya dengan janji untuk mengatasi kekurangan perumahan, berinvestasi di bidang pendidikan dan mengatasi masalah imigrasi.
Namun, Wilders pada Kamis pagi bersikeras ia akan memimpin jika PVV pada akhirnya menang.
"Selama belum 100 persen jelas, D66 tidak dapat memimpin. Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk mencegahnya," katanya dalam unggahan di Twitter.
Wilders pada Rabu malam mengatakan kecewa karena partainya kehilangan kursi dan kemungkinan besar tidak akan berada di pemerintahan berikutnya.
BACA JUGA:
Wilders, salah satu pemimpin populis terlama di Eropa, dikenal karena sikap anti-Islamnya. Ia telah mengusulkan penolakan semua permintaan suaka - yang akan melanggar perjanjian Uni Eropa - pengembalian pengungsi laki-laki Ukraina ke Ukraina, dan penghentian bantuan pembangunan untuk membiayai energi dan layanan kesehatan.
Dengan 76 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk koalisi pemerintahan di parlemen Belanda, setidaknya dibutuhkan empat partai. Salah satu skenarionya adalah pakta yang mencakup D66, Partai Demokrat Kristen konservatif, VVD yang berhaluan kanan-tengah, dan Partai Hijau-Buruh.
Namun, membangun koalisi yang stabil itu sulit dan perundingan diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan.