JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakhiri kunjungan kerjanya ke Asia usai mencapai kesepakatan dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, Hari Kamis.
Presiden Trump mengawali kunjungannya ke Asia dengan tiba di Malaysia pada Hari Minggu lalu guna mengikuti KTT ke-13 ASEAN - Amerika Serikat.
Dari sana, Presiden Trump terbang ke Jepang untuk kemudian bertemu Kaisar Jepang Naruhito dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang baru saja menjabat.
Selesai di Jepang, Presiden Trump melanjutkan perjalanannya ke Korea Selatan untuk bertemu dengan Presiden Lee Jae-myung di Gyeongju yang menjadi tuan rumah KTT APEC 2025, sebelum kemudian bertemu Presiden China Xi Jinping di Busan.
Sorotan tujuan berikutnya Presiden Trump diarahkan ke Korea Utara, yang menarik perhatian sebelum Ia memulai rangkaian kunjungannya ke Asia. Dan, Presiden Trump mengakhiri kunjungannya tanpa bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.
Presiden Trump sebelumnya berulang kali mengatakan keinginannya untuk kembali bertemu dengan Pemimpin Kim, setelah pertemuan pada periode pertama jabatannya, menjadikan Ia presiden pertama AS yang menginjakkan kaki di Korea Utara saat kunjungan mendadak ke Zona Demiliterisasi (DMZ), yang terletak di perbatasan Korea Utara-Korea Selatan, tahun 2019, dikutip dari CNN 30 Oktober.
Presiden Trump mengatakan Ia tidak bisa bertemu dengan Pemimpin Kim karena kesibukannya.
"Kami tidak pernah bisa bicara karena, lihat, saya sangat sibuk," kata Presiden Trump kepada wartawan di Air Force One setelah meninggalkan Korea Selatan dan mengakhiri tur Asianya pada Hari Kamis.
Kemarin, Presiden Trump mengatakan Ia tidak dapat mengatur pertemuan dengan Pemimpin Kim selama kunjungannya ke Asia, dikutip dari CNA.
Kendati demikian, Presiden Trump mengindikasikan masih ingin bertemu Pemimpin Kim, kelak kembali berkunjung ke Asia.
"Kami akan melakukan kunjungan-kunjungan lain, dan kami akan bekerja sangat keras dengan Kim Jong-un dan semua orang untuk menyelesaikan masalah ini," ujarnya.
Pada periode pertama jabatannya, Presiden Trump tiga kali bertemu dengan Pemimpin Kim dalam kurun waktu 2018-2019 di Singapura, Vietnam dan DMZ.
Sebelumnya, Pemimpin Kim telah mengutarakan sikapnya, Ia akan bertemu Presiden Trump jika Washington meninggalkan apa yang disebutnya "obsesi absurd" terhadap denuklirisasi.
BACA JUGA:
Dalam pidatonya di Bulan September, Pemimpin Kim mengatakan masih memiliki "kenangan indah" tentang Presiden Trump, tetapi negaranya "tidak akan pernah menukar senjata nuklir demi bebas dari sanksi."
Dengan kata lain, kesepakatan yang ditawarkan Trump enam tahun lalu – menukar keringanan sanksi dengan perlucutan senjata – tidak lagi berlaku dengan Korea Utara ingin diakui sebagai negara bersenjata nuklir.