Bagikan:

WAMENA – Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menyebut hujan es yang terjadi di wilayah tersebut dipicu oleh pembentukan awan Cumulonimbus.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena, Gema Reksa, mengatakan fenomena hujan es yang sempat turun beberapa waktu lalu berlangsung singkat, hanya beberapa menit, namun disertai hujan deras dan angin kencang.

“Hujan es yang kami pantau memang turunnya hanya beberapa menitan, langsung disambung dengan hujan cukup deras dan angin cukup kencang, karena adanya awan Cumulonimbus. Ini fenomena unik sepanjang saya bekerja di sini,” kata Gema di Wamena, Antara, Kamis, 2 Oktober. 

Menurut dia, Stasiun Meteorologi Wamena menggunakan radar untuk memantau kondisi awan dan muatannya, apakah berupa air atau es.

“Terjadinya hujan es kemarin itu karena adanya awan Cumulonimbus. Kami memantau menggunakan radar terjadi refleksivitas atau parameter semakin tinggi di awan Cumulonimbus maka kemungkinan hujan lebat itu semakin besar, dan kami pantau itu mencapai 42 desibel,” ujarnya.

Gema menjelaskan, semakin tinggi nilai dBZ, semakin besar pula kemungkinan cuaca buruk hingga hujan lebat. Namun, fenomena hujan es kali ini hanya terjadi di beberapa titik di Wamena dan tidak menyeluruh.

Ia menambahkan, hujan es terbentuk karena lapisan atas awan Cumulonimbus berisi uap air yang berubah menjadi es. Saat suhu permukaan lebih dingin dibandingkan lapisan awan, es tersebut tetap turun dalam bentuk butiran es, bukan air hujan.

“Kemungkinan yang terjadi itu suhu di permukaan lebih dingin dari di atas awan, maka uap air yang telah menjadi es itu tidak berubah bentuk menjadi air, tetapi tetap menjadi es yang turun di Wamena,” jelasnya.

BMKG meminta masyarakat Jayawijaya tetap waspada menghadapi perubahan cuaca. Saat ini wilayah Papua Pegunungan memasuki masa peralihan dari musim panas ke musim penghujan.

“Biasanya musim hujan akan terjadi pada pertengahan bulan Oktober hingga akhir Desember 2025 atau awal Januari 2026. Masyarakat tetap waspada terkait situasi cuaca di Papua Pegunungan khususnya Kabupaten Jayawijaya,” kata Gema.

Awan Cumulonimbus sendiri dikenal sebagai awan vertikal padat yang menjulang tinggi, pembawa cuaca ekstrem seperti hujan deras, badai petir, angin kencang, hingga hujan es.