Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu "kehilangan kendali" terkait Gaza.

Netanyahu dianggap bertindak terlalu jauh sehingga menyebabkan kondisi krisis di Gaza mulai dari kurangnya bantuan kemanusiaan hingga pemindahan paksa penduduk.

"Saya pikir dia kehilangan kendali,” kata Luxon dilansir Reuters, Rabu, 13 Agustus.

“Apa yang kita saksikan semalam, serangan terhadap Kota Gaza, benar-benar tidak dapat diterima,” sambungnya.

Selandia Baru sedang mempertimbangkan untuk mengakui negara Palestina. Sekutu dekatnya, Australia, pada Senin lebih dulu bergabung dengan Kanada, Inggris, dan Prancis dalam mengumumkan hal tersebut pada konferensi PBB di bulan September.

Krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai "tingkat yang tak terbayangkan", kata Inggris, Kanada, Australia, dan beberapa sekutu Eropa pada Selasa. Mereka mendesak Israel untuk mengizinkan bantuan tanpa batas ke daerah kantong Palestina yang dilanda perang tersebut.

Israel membantah bertanggung jawab atas kelaparan yang menyebar di Gaza, menuduh militan Hamas mencuri kiriman bantuan.

Menjelang sidang parlemen pada Rabu, pengunjuk rasa berkumpul di luar gedung parlemen Selandia Baru, memukuli panci dan wajan.

Media lokal, Stuff, melaporkan para pengunjuk rasa meneriakkan "Anggota parlemen tumbuhkan keberanian, akui Palestina."

Pada Selasa, anggota parlemen dari Partai Hijau, Chloe Swarbrick, dikeluarkan dari ruang debat parlemen setelah ia menolak meminta maaf atas komentarnya yang menyiratkan politikus pemerintah tidak punya nyali karena tidak mendukung rancangan undang-undang untuk memberikan sanksi kepada Israel atas kejahatan perangnya.

Swarbrick diperintahkan meninggalkan ruang debat untuk hari kedua pada Rabu setelah ia kembali menolak meminta maaf. Ketika ia menolak untuk pergi, pemerintah memutuskan untuk menskorsnya.

"Enam puluh delapan anggota DPR ini dituduh tidak punya nyali," kata Ketua DPR Gerry Brownlee.

"Tidak pernah ada masa di mana penghinaan pribadi seperti yang disampaikan dalam pidato diterima oleh DPR ini dan saya tidak akan menerimanya,” sambungnya.

Saat Swarbrick meninggalkan ruangan, ia menyerukan "bebaskan Palestina."