JAKARTA - Tentara Ukraina yang bersiap bertempur mengaku kurang yakin dengan prospek gencatan senjata yang cepat. Banyak tentara yang menolak usulan agar Kyiv menyerahkan sebagian wilayahnya yang diperebutkan kepada Rusia.
Reuters mewawancarai pasukan di dua pangkalan pelatihan di wilayah Kharkiv timur laut minggu ini, beberapa hari menjelang pertemuan yang direncanakan di Alaska antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir putin.
Ukraina khawatir kedua pemimpin dapat memanfaatkan pertemuan puncak mereka pada Jumat, 15 Agustus untuk mendikte persyaratan perdamaian dan memaksa Kyiv meninggalkan wilayahnya.
“Memberikannya kepada siapa? Memberikannya untuk apa?" tanya komandan pangkalan pelatihan Brigade Bermotor ke-58 Ukraina, yang kode panggilannya adalah Chef.
Trump sebelumnya mengatakan baik Kyiv maupun Moskow perlu menyerahkan wilayah untuk mengakhiri perang, yang kini memasuki tahun keempat.
Para pemimpin Uni Eropa bersatu untuk membela Ukraina pada Selasa, 12 Agustus dengan mengatakan Ukraina harus memiliki kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Pernyataan bersama itu muncul ketika pasukan Rusia tiba-tiba menyerbu Ukraina timur dalam upaya untuk menembus garis pertahanan utama, yang kemungkinan bertujuan untuk meningkatkan tekanan pada Kyiv agar menyerahkan wilayahnya.
Dorongan cepat ke medan perang oleh tentara Rusia yang lebih besar dan lebih lengkap menyusul serangan udara mematikan selama berbulan-bulan di kota-kota Ukraina.
BACA JUGA:
Survei Gallup yang dirilis pekan lalu menunjukkan 69% warga Ukraina mendukung penyelesaian perang melalui negosiasi sesegera mungkin.
Namun, jumlah yang hampir sama percaya bahwa pertempuran tidak akan segera berakhir.
"Setiap jalan menuju perdamaian dibangun melalui negosiasi," kata prajurit Brigade ke-58 lainnya, dengan kode panggilan Champion, yang duduk di dalam kendaraan lapis baja.
"Tetapi saya tidak bisa mengatakan bahwa besok akan ada perdamaian begitu saja. Karena musuh terus menyusup masuk,” sambungnya.
Trump mengatakan pembicaraannya dengan Putin akan menjadi "pertemuan untuk uji coba”.
Trump akan memberi tahu pemimpin Rusia itu untuk mengakhiri perang ini. Namun, ia juga mengisyaratkan mungkin akan mundur dan membiarkan kedua belah pihak terus bertempur.
Pasukan Ukraina lainnya yang berlatih di wilayah Kharkiv juga menyambut baik gencatan senjata, tetapi mengatakan Kremlin perlu dipaksa untuk berdamai.
"Sampai Rusia menderita kerugian yang cukup besar untuk menghentikan gagasan tekanan militer terhadap kami, (pertempuran) akan terus berlanjut," kata seorang instruktur dari Brigade Mekanis Terpisah ke-43, yang kode panggilannya adalah Siput.
"Kalau tidak, kami tidak akan bisa menghentikan ini,” sambungnya.