JAKARTA - Pemimpin Serbia Bosnia Milorad Dodik berjanji untuk menentang putusan pengadilan yang melarangnya menduduki jabatan politik selama enam tahun. Dodik akan meminta bantuan dari Rusia dan Presiden AS Donald Trump.
Milorad Dodik menanggapi putusan pengadilan banding Bosnia yang menguatkan hukuman yang dijatuhkan kepadanya karena menentang perintah utusan perdamaian internasional yayng bertugas mencegah Bosnia yang multietnis kembali terjerumus ke dalam perang saudara.
Dodik mengatakan kepada wartawan, ia akan terus bekerja.
"Saya tidak menerima putusan itu," ujarnya dilansir Reuters, Jumat, 1 Agustus.
"Saya akan meminta bantuan Rusia dan menulis surat kepada pemerintah AS,” sambungnya.
Ia mengatakan akan meminta rekan-rekannya untuk tidak berkomunikasi dengan duta besar dari Uni Eropa, yang memiliki pasukan penjaga perdamaian di Bosnia dan mengerahkan pasukan cadangan selama krisis tersebut.
Hukuman yang dijatuhkan kepada Dodik pada Februari karena menentang Mahkamah Konstitusi dan utusan perdamaian, mencakup hukuman penjara satu tahun yang, berdasarkan sistem hukum Bosnia, kemungkinan dapat ditukar dengan denda.
Pengacaranya, Goran Bubic, mengatakan timnya akan mengajukan banding atas putusan pengadilan banding pada Jumat ke Mahkamah Konstitusi dan meminta penundaan sementara pelaksanaan putusan tersebut sambil menunggu keputusannya.
Putusan Dodik pada Februari memicu kegemparan di Republik Serbia yang otonom di Bosnia, memicu krisis politik terburuk di Bosnia sejak konflik tersebut, yang menewaskan sekitar 100.000 orang pada tahun 1992-1995.
Sebagai seorang nasionalis pro-Rusia yang ingin memisahkan wilayahnya dari Bosnia, Dodik menanggapi dengan langkah-langkah untuk mengurangi keberadaan negara tersebut di Republik Serbia dengan memerintahkan anggota parlemen untuk melarang jaksa, pengadilan, dan badan intelijen negara tersebut.
Mahkamah Konstitusi kemudian menangguhkan sementara undang-undang parlemen daerah tersebut karena membahayakan tatanan konstitusional dan hukum serta kedaulatan Bosnia dan Herzegovina, nama resmi negara tersebut.
Dodik telah lama memperjuangkan pemisahan diri wilayah yang didominasi Serbia, yang bersama Federasi Bosnia-Kroasia membentuk Bosnia.
Krisis yang dipicu oleh dorongan separatisnya merupakan salah satu ancaman terbesar bagi perdamaian di Balkan sejak konflik-konflik yang menyusul runtuhnya Yugoslavia.