Bagikan:

JAKARTA -  Kepala Riset Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI), Profesor Yon Machmudi memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Ia menilai serangan Israel ke negara berjuluk Negeri Para Mullah tersebut justru karena tak khawatir menghadapi ancaman senjata pemusnah massal.

“Mengapa Israel berani menyerang dengan alasan pengembangan nuklir? Karena (di Iran) tidak ada senjatanya. Coba sudah terbukti Iran punya senjata nuklir, pasti negara (lain) tidak berani menyerang karena begitu nanti diserang, bahaya dan hancur,” ujar Prof. Yon saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 2 Juli 2025.

Kepala Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI itu mengatakan, Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu telah memprediksi Iran tidak memiliki senjata nuklir. “Ketika Netanyahu mengunjungi tempat yang rusak di Tel Aviv (Israel), dia bilang kalau Iran punya nuklir dan hancur, pasti kita habis semua,” kata Prof. Yon menirukan ucapan Netanyahu.

Konflik Timur Tengah memanas sejak Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran yang menyasar instalasi militer, kediaman pejabat tinggi, fasilitas nuklir, dan warga sipil pada dini hari 13 Juni 2025. Serangan itu membunuh sejumlah petinggi militer Iran seperti Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Besar Mohammad Bagheri, serta sejumlah ilmuwan nuklir. Amerika Serikat juga ikut campur dengan mengebom fasilitas nuklir Iran di tiga lokasi, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan pada 22 Juni 2025.

Menurut Prof. Yon, penyerangan Israel ke Iran memiliki sejumlah alasan lain yang lebih luas, yakni ancaman Iran yang mendeklarasikan penghancuran Israel, hubungan yang tidak harmonis pasca serangan Israel ke Palestina, termasuk kemajuan fasilitas nuklir di Iran. “Nah, pada saat itulah Netanyahu mendeklarasikan bahwa (Iran) ini adalah musuh yang akan menghancurkan Israel, punya potensi pengembangan nuklir. Cara yang terbaik adalah menghancurkan fasilitas nuklir termasuk membunuh ilmuwan-ilmuwan yang bekerja di situ (Iran). Ini cara untuk menyelamatkan Israel,” kata Prof. Yon.

Prof. Yon menjelaskan, Iran memang mengembangkan nuklir, tapi untuk tujuan perdamaian khususnya menopang kebutuhan energi dan kesehatan. Program ini dikembangkan sejak 1967 yang diinisiasi AS dan negara-negara Eropa, yang juga sekutu Israel. Sehingga ahli nuklir dari AS dan Eropa dikirim untuk menjalankan pengayaan nuklir di 20 tempat di Iran.

“Pada saat itu posisi Iran sedang baik dengan Amerika. Jadi difasilitasi untuk membuat industri nuklir untuk damai,” katanya.

Pada 1979, kata Prof. Yon, terjadi revolusi Iran yang membuat kekuasaan monarki runtuh digantikan oleh republik Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Khamenei yang berseberangan dengan hegemoni AS. “Khamenei mengambil alih (pemerintahan Iran) dan posisinya berseberangan dan melawan Amerika. Saat itu ahli-ahli nuklir (dari Barat) pulang semua dan tidak dilanjutkan (pengayaan nuklir),” ucapnya.

Prof. Yon menambahkan, pada 1990an, industri nuklir Iran dilanjutkan kembali dengan bekerja sama dengan Rusia. Hal ini menimbulkan kemarahan AS dan Eropa yang selama ini membantu Iran dalam pengembangan nuklir. “Jadi, kalau pengayaan nuklir dengan Amerika dan Eropa untuk damai itu, aman. Tapi kalau dengan Rusia dan ahlinya juga dari Rusia, apalagi Iran itu sumber uraniumnya melimpah, maka ini dianggap menjadi ancaman dunia,” katanya.

Eddy Wijaya dan Profesor Yon Mahmud. (Dok Eddy Wijaya)
Eddy Wijaya dan Profesor Yon Mahmud. (Dok Eddy Wijaya)

Pengaruh Perang Iran dan Israel Terhadap Indonesia

Guru Besar UI, Prof. Yon Machmudi menjelaskan Indonesia menjadi salah satu negara yang cukup terdampak perang antara Iran dan Israel. Dampak tersebut dirasakan terhadap terganggunya penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Pasti APBN juga akan terguncang, terkoreksi. Nah, ini kan menjadi persoalan sendiri walaupun konflik di sana tapi kita masih menggantungkan dengan minyak, akhirnya secara ekonomi semua sektor akan terkoreksi,” kata Prof. Yon kepada Eddy Wijaya.

Akademisi kelahiran Jombang, Jawa Timur, 17 September 1973 itu menjelaskan, dampak ekonomi akibat perang tersebut terjadi akibat kemungkinan langkanya minyak bumi. Hal ini memicu terjadinya krisis global tanpa kecuali di Indonesia. “Kalau enggak (harga) minyak melonjak, emas juga melonjak, kemudian rupiah pasti mengalami penurunan,” kata Prof. Yon.

Oleh karena itu, Prof. Yon berharap Indonesia yang merupakan negara importir minyak memperkuat komunikasi serta diplomasi dengan negara-negara di Kawasan Timur Tengah sebagai pengekspor minyak dunia. “Kita juga berkepentingan suplai minyak aman sampai ke kita dan tidak terjadi lonjakan yang besar karena pasti dampaknya secara ekonomi,” ucapnya.

Siapa Eddy Wijaya Sebenarnya, Begini Profilnya

Sosok Eddy Wijaya adalah seorang podcaster kelahiran 17 Agustus 1972. Melalui akun YouTube @EdShareOn, Eddy mewawancarai banyak tokoh bangsa mulai dari pejabat negara, pakar hukum, pakar politik, politisi nasional, hingga selebritas Tanah Air. Pria dengan khas lesung pipi bagian kanan tersebut juga seorang nasionalis yang merupakan aktivis perjuangan kalangan terdiskriminasi dan pemerhati sosial dengan membantu masyarakat lewat yayasan Wijaya Peduli Bangsa.

Ia juga aktif di bidang olahraga dengan menjabat Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pacu dan juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jakarta Timur. Gagasan-gagasannya terbentuk karena kerja kerasnya untuk mandiri sejak usia 13 tahun hingga sukses seperti sekarang. Bagi Eddy, dunia kerja tidak semulus yang dibayangkan, kegagalan dan penolakan menjadi hal biasa. Hal itulah yang membuatnya memegang teguh tagline “Sukses itu hanya masalah waktu”. (ADV)