JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk "tindakan kekerasan" Israel terhadap Iran, menyerukan penghentian segera permusuhan saat keduanya berbicara melalui sambungan telepon pada Hari Senin.
"Kedua belah pihak menyatakan keprihatinan yang paling serius tentang eskalasi konflik Iran-Israel yang sedang berlangsung, yang telah menyebabkan sejumlah besar korban dan penuh dengan konsekuensi jangka panjang yang serius bagi seluruh kawasan," kata pernyataan Kremlin, melansir Reuters 16 Juni.
"Para pemimpin berbicara mendukung penghentian segera permusuhan dan penyelesaian masalah yang disengketakan, termasuk yang terkait dengan program nuklir Iran, secara eksklusif melalui cara politik dan diplomatik," lanjut pernyataan itu.
Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran dalam Operasi "Raising Lion" pada Jumat dinihari, mengklaim itu menyasar fasilitas nuklir dan militer Iran.
Iran menanggapi serangan tersebut dengan melakukan serangan balasan ke sejumlah sasaran di sejumlah kota Iran. Kedua belah pihak masih masing serang hingga Hari Senin.
Presiden Erdogan mengatakan serangan Israel berisiko memicu kekerasan yang mengancam seluruh kawasan, menambahkan sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengabaikan hukum merupakan ancaman nyata bagi sistem internasional, menggarisbawahi kawasan tersebut tidak dapat menanggung perang lagi, dikutip dari Daily Sabah.
Presiden Erdogan menekankan, Turki telah melakukan diplomasi aktif sejak awal konflik, mengatakan dialog adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan krisis.
Ia memperingatkan, ketegangan terbaru tidak boleh mengalihkan perhatian dari serangan genosida yang sedang berlangsung terhadap warga Palestina di Gaza.
BACA JUGA:
Terpisah, otoritas Iran mengatakan sedikitnya 224 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka akibat serangan yang dilakukan Israel.
Di sisi lain, pihak berwenang Israel mengatakan sedikitnya 24 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan rudal Iran sejak Jumat.